Dari Laura Bassi ke Revolusi Seks: Feminisme - Perjalanan Panjang Keluar dari Dapur Intelektual
Saya rasa wanita itu bodoh bila merasa dirinya setara dengan pria.
Mereka itu jauh lebih hebat dan selalu begitu.
Apapun yang kau berikan pada wanita la akan menjadikannya lebih baik.
Jika kau memberinya sperma, ia memberikanmu buah hati.
Jika kau beri dia tempat tinggal, ia akan memberimu rumah.
Jka kau beri dia bahan makanan, ia akan memberimu sesuatu untuk dimakan.
Jika kau beri dia senyum,
ia akan memberimu hatinya.
Ia melipatgandakan dan melebihkan apa-apa yang kau berikan padanya
maka jika kau memberinya sampah, bersiap-siaplah untuk menerima ton kotoran"
William Golding_
Aristoteles, dengan percaya diri menyatakan dalam Politics bahwa laki-laki adalah pemimpin alami sementara perempuan adalah objek yang inferior secara biologis. Sebuah kesimpulan yang luar biasa dari seseorang yang (ironisnya) lahir dari rahim seorang wanita.
Filsafat sering disebut sebagai Mother of Science. Namun, melihat catatan sejarahnya, sepertinya sang "Ibu" (Mother) ini telah lama menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga intelektual oleh anak-anak lelakinya sendiri.
Oleh: D.I. Christian
Abad ke-18: Revolusi Industri atau Penjara Domestik?
Munculnya Revolusi Industri di Eropa bukan sekadar tentang mesin uap James Watt. Secara sosiologis, ini adalah era di mana dikotomi gender diperas hingga tetes terakhir. Kaum borjuis dan proletar bertarung di pabrik, namun di rumah, sebuah struktur yang lebih kejam sedang dibangun. Lelaki ditarik ke sektor publik—industri yang dianggap "produktif"—sementara perempuan disekap dalam narasi "domestik".
Perempuan dianggap sebagai makhluk yang terlalu rapuh untuk menghitung angka atau memikirkan eksistensi Tuhan di ruang publik. Padahal, jika kita menengok ke belakang, bukankah Mary Wollstonecraft melalui A Vindication of the Rights of Woman (1792) telah memberikan tamparan keras bagi para pemikir masanya? Wollstonecraft berargumen bahwa perempuan tampak inferior hanya karena mereka tidak diberi akses pendidikan. Ia menegaskan bahwa perempuan bukanlah sekadar perhiasan rumah tangga, melainkan manusia rasional yang mampu berdaulat atas dirinya sendiri.
Tirai Jendela Utrecht dan Ironi Pendidikan
Mari kita bicara tentang Anna Maria van Schurman. Pada abad ke-17, ia adalah wanita pertama yang mencicipi bangku kuliah di Universitas Utrecht. Namun, "mencicipi" di sini bermakna harfiah yang menyedihkan: ia harus duduk di balik tirai atau mendengarkan dari balik jendela agar tidak mengganggu konsentrasi para pria suci yang sedang belajar. Bayangkan, sebuah otak yang mampu menguasai 14 bahasa harus bersembunyi seperti pencuri hanya untuk mengonsumsi ilmu pengetahuan. Ini bukan sekadar patriarki; ini adalah komedi dalam sejarah akademis.
Dominasi patriarkal dalam filsafat bukan terjadi karena perempuan tidak mampu berpikir metafisika atau epistemologi. Masalah utamanya adalah politik publikasi. Jika Anda seorang perempuan pada abad ke-17 dan menulis tentang teori moral, karya Anda kemungkinan besar akan berakhir sebagai pembungkus ikan atau dianggap sebagai "curhatan emosional" semata.
Keajaiban baru muncul di Italia. Elena Cornaro Piscopia (1678) dan Laura Bassi (1732) membuktikan bahwa jika tirai jendela itu dibuka, perempuan bisa melibas 49 tesis filsafat alam di depan lima profesor pria yang mungkin saja sedang menahan malu. Bassi meraih gelar doktoralnya hanya dalam waktu satu bulan—sebuah kecepatan yang mungkin membuat Aristoteles memutar bola matanya di alam kubur.
Kekuasaan: Sebuah Halusinasi Terstruktur
Bagi kaum feminis, kekuasaan pria atas wanita sebenarnya adalah sebuah konstruksi sosial yang dipaksakan hingga dianggap sebagai hukum alam (natural law). Struktur patriarki menciptakan legitimasi historis yang seolah-olah sakral. Namun, jika kita menggunakan pisau analisa filsafat feminisme, kita akan melihat bahwa "kekuasaan" ini hanyalah kerapuhan yang dibalut dengan ego maskulin.
Feminisme bukanlah sekadar gerakan "ingin menjadi pria". Itu adalah pemahaman yang dangkal. Feminisme adalah upaya untuk berfilsafat dari sudut pandang pengalaman unik perempuan. Mengapa pengalaman perempuan penting? Karena selama ribuan tahun, definisi "manusia" dalam filsafat selalu merujuk pada "pria". Jika pria adalah standar manusia, maka perempuan akan selalu menjadi "yang lain" (the Other), sebagaimana yang dikritik oleh Simone de Beauvoir dalam The Second Sex (1949).
Radikalisme dan Fitrah: Menyeimbangkan Timbangan
Tentu saja, dalam setiap gerakan, ada faksi yang "bersemangat berlebihan". Feminisme radikal muncul dengan agenda menghancurkan struktur keluarga, mencemooh pernikahan, dan menganggap patriarki sebagai iblis yang harus dibakar habis. Bagi mereka, setiap bentuk hirarki adalah penindasan.
Namun, kita perlu kembali pada esensi: Kesetaraan tidak berarti kesamaan identitas secara biologis. Gerakan feminisme yang sehat membedakan antara sex (kodrat biologis yang tetap) dan gender (peran sosial yang bisa diubah). Adalah fakta sosiologis bahwa perempuan memiliki peran fundamental sebagai pembentuk generasi. Hanya perempuan yang mampu melipatgandakan kehidupan—sebuah kemampuan yang tidak akan pernah dimiliki pria, meski mereka mencoba membedah seluruh buku teks biologi di dunia.
Menjadi feminis tidak berarti harus membenci pria atau menolak menjadi ibu. Justru, perempuan perlu berfilsafat untuk menyelamatkan dunia dari ketimpangan pemikiran yang hanya melihat realitas dari satu mata (mata pria). Dunia tanpa perspektif perempuan adalah dunia yang pincang, kurang empati, dan terlalu terobsesi pada penaklukan.
Epilog: Bagaimana Feminisme yang Baik?
Feminisme yang baik bukanlah sebuah upaya balas dendam sosiologis yang bertujuan membalikkan tirani, melainkan sebuah restu atas akal budi. Ia menolak terjebak dalam romantisme penderitaan masa lalu, namun tetap menyimpan catatan sejarah ketidakadilan sebagai kompas agar lubang yang sama tidak digali kembali. Ideologi ini menempatkan perempuan sebagai subjek penuh—sebuah entitas yang memiliki kedaulatan atas pikiran, tubuh, dan eksistensinya—alih-alih sekadar menjadi objek estetika yang dipajang di etalase budaya atau "mesin produksi" yang hanya dihargai karena fungsi biologisnya.
Maka, jika di era kecerdasan artifisial ini masih ada individu yang menganggap aspirasi kesetaraan sebagai bentuk kebodohan, sejatinya merekalah yang sedang mempertontonkan kenaifan intelektual. Orang-orang ini seolah sedang terjebak dalam kapsul waktu abad pertengahan, menolak fakta bahwa kecerdasan tidak memiliki kromosom seks. Barangkali, mereka perlu dipaksa duduk bersila di balik tirai jendela Anna Maria van Schurman, merasakan betapa sesaknya sebuah pikiran yang cemerlang ketika harus disekap oleh dinding-dinding patriarki yang bebal.
Menghalangi perempuan dari panggung pemikiran bukan hanya sebuah ketidakadilan moral, melainkan sebuah kerugian sistemik bagi peradaban. Bagaimana mungkin sebuah masyarakat bisa maju dengan kecepatan penuh jika separuh dari kapasitas otaknya sengaja dimatikan fungsinya? Mengabaikan kontribusi intelektual perempuan sama saja dengan mencoba memecahkan teka-teki alam semesta dengan satu mata tertutup; sebuah tindakan yang tidak hanya arogan, tetapi juga sangat tidak efisien secara saintifik dan filosofis.
Pada akhirnya, gerakan ini adalah tentang memanusiakan manusia secara utuh tanpa embel-embel prasangka gender yang usang. Ketika kita berhenti memandang perempuan melalui lensa sempit subordinasi, kita sebenarnya sedang membuka pintu bagi dialektika yang lebih kaya dan solusi-solusi yang lebih empatik bagi masalah dunia. Meminggirkan perempuan dari dunia pemikiran adalah bentuk kebodohan intelektual yang paling nyata, sebuah "bunuh diri" kultural yang hanya akan menyisakan sejarah yang pincang dan narasi yang cacat secara logika.
Finn..
Referensi:
- Guernsey, J. B. (2010). The Lady Philosopher: Elena Cornaro Piscopia.
- Findlen, P. (1993). Science as a Career in Enlightenment Italy: The Strategies of Laura Bassi. ISIS Journal.
- Wollstonecraft, M. (1792). A Vindication of the Rights of Woman.
- Beauvoir, S. de. (1949). Le Deuxième Sexe (The Second Sex).
- Schurman, A. M. v. (1641). Dissertatio de ingenii muliebris ad doctrinam et meliores litteras aptitudine.

.png)
0 Response to "Dari Laura Bassi ke Revolusi Seks: Feminisme - Perjalanan Panjang Keluar dari Dapur Intelektual"
Posting Komentar