Elegi Si Paling Berproses: Membedah Krisis Seperempat Abad di Tengah Badai Ekonomi
Selamat datang di usia dua puluhan, sebuah fase di mana Anda secara resmi diwisuda dari bangku pendidikan hanya untuk memasuki dunia eksperimen sosial bernama "realita". Di sini, gelar sarjana Anda seringkali hanya berfungsi sebagai alas duduk yang mahal saat Anda merenungi mengapa saldo rekening Anda lebih rendah daripada suhu di ruangan ber-AC kantor startup yang baru saja mem-PHK ribuan karyawannya.
Oleh: D.I. Christian
Ontologi Cicilan: Antara Ada dan Tiada
Secara ontologis, keberadaan anak muda saat ini berada dalam kondisi "menjadi" (becoming) yang tak kunjung usai. Jika Jean-Paul Sartre melihat manusia dikutuk untuk bebas, anak muda Indonesia saat ini dikutuk untuk memilih: mau beli kopi susu kekinian agar tetap relevan di media sosial, atau menabung untuk uang muka rumah yang harganya naik lebih cepat daripada kecepatan cahaya?
Sartre mungkin benar bahwa "eksistensi mendahului esensi", tapi dia tidak pernah menghitung inflasi. Esensi Anda saat ini ditentukan oleh skor kredit dan kemampuan Anda bertahan di bawah tekanan Key Performance Indicator (KPI) yang tidak masuk akal. Kita hidup dalam bayang-bayang Absurdisme Albert Camus. Setiap hari kita mendorong batu besar ke atas bukit—mencari kerja, membayar kosan, menghindari pertanyaan "kapan nikah"—hanya untuk melihat batu itu menggelinding turun lagi saat harga bahan bakar naik atau nilai tukar rupiah melemah.
Bedanya, Sisyphus tidak perlu memposting penderitaannya di Instagram dengan caption "Stay Grateful". Kita melakukannya dengan senyuman yang dipaksakan, sebuah bentuk pemberontakan yang ironis terhadap kesia-siaan.
Dialektika Gengsi dan Gaji
Mari kita bicara tentang Friedrich Hegel dan dialektikanya. Tesisnya adalah keinginan Anda untuk sukses. Antitesisnya adalah harga properti di Jabodetabek. Sintesisnya? Anda tinggal di rumah orang tua sampai usia 35 tahun sembari menyebutnya sebagai "bakti kepada keluarga".
Di Indonesia, norma kekeluargaan seringkali menjadi perisai sekaligus belenggu. Secara filosofis, ini adalah perbenturan antara kolektivisme dan individualisme neoliberal. Anda dituntut untuk mandiri secara ekonomi secepat kilat (seperti para influencer pamer harta yang mungkin asetnya hanya pinjaman), namun di saat yang sama, Anda terikat pada tanggung jawab moral untuk menjadi tulang punggung keluarga atau "Sandwich Generation".
Ini adalah intrik sosiologis yang luar biasa. Anda diminta menjadi singa di luar rumah, namun di dalam rumah, Anda tetaplah anak kecil yang tidak boleh mendebat orang tua meskipun argumen Anda didasarkan pada data jurnal ilmiah terbaru. Ketidakpastian ekonomi ini membuat dialektika hidup Anda macet di tahap "bertahan hidup".
Fenomenologi "Self-Healing" yang Manipulatif
Mari kita meminjam kacamata Edmund Husserl untuk membedah fenomena self-healing. Anak muda saat ini sering terjebak dalam kesadaran intensionalitas bahwa kebahagiaan bisa dibeli melalui tiket konser atau liburan singkat ke Bali.
Secara filosofis, ini adalah pelarian dari kecemasan eksistensial (Angst) yang dijelaskan oleh Heidegger. Kita merasa "terlempar" ke dunia yang tidak pasti ini, lalu mencoba menambal lubang di jiwa kita dengan konsumerisme. Masalahnya, ketidakpastian ekonomi tidak bisa disembuhkan dengan segelas matcha latte. Itu hanyalah anestesi sementara bagi rasa sakit karena menyadari bahwa masa depan Anda mungkin tidak secerah filter foto yang Anda gunakan.
Kita bekerja begitu keras sampai tipes, hanya untuk menggunakan uang hasil kerja demi mengobati tipes tersebut. Sebuah lingkaran setan yang akan membuat Karl Marx menangis di pojokan Mushala karena melihat betapa efisiennya kapitalisme modern menghisap energi kita bahkan melalui hobi.
Etika Utilitarianisme di Tengah Kelangkaan
Dalam ruang lingkup norma Indonesia, kesabaran adalah kebajikan tertinggi. Namun, jika kita melihat melalui Utilitarianisme Jeremy Bentham, apakah tetap sabar di tengah sistem ekonomi yang tidak adil memberikan kegunaan (utility) terbesar bagi jumlah orang terbanyak? Ataukah kita hanya sedang memelihara kemiskinan struktural dengan bumbu "nrimo ing pandum"?
Quarter-life crisis seringkali dipicu oleh perbandingan. Kita melihat teman kita sukses di LinkedIn dan merasa gagal. Padahal, LinkedIn adalah puncak dari kepalsuan eksistensial. Di sana, kegagalan dibungkus sebagai "pembelajaran" dan pengangguran disebut sebagai "open to work".
Secara filosofis, kita sedang mengalami krisis kebenaran. Kita kehilangan pegangan akan apa yang nyata karena ekonomi digital memaksa kita untuk menjual citra, bukan realita. Nilai intrinsik manusia kini diukur dari jumlah koneksi dan engagement rate. Jika Anda tidak punya "personal branding", apakah Anda benar-benar ada?
Epilog: Menemukan Makna di Tengah Kekacauan
Mungkin solusi bagi quarter-life crisis di tengah ketidakpastian ekonomi ini bukan dengan mencari jawaban di buku motivasi yang ditulis oleh orang kaya, melainkan dengan merangkul ketidakpastian itu sendiri.
Seperti kata Nietzsche, "Seseorang harus memiliki kekacauan di dalam dirinya untuk bisa melahirkan bintang yang menari." Jika dompet Anda kosong dan masa depan terlihat buram, ingatlah bahwa Anda setidaknya sedang menjalankan peran filosofis sebagai pengamat penderitaan manusia yang estetis.
Tetaplah berjalan sesuai norma, hargai orang tua, jangan lupa bayar pajak (meskipun kadang kita bertanya uangnya lari ke mana), dan yang terpenting: tertawailah kemalangan Anda sebelum orang lain melakukannya. Sebab, di Indonesia, humor adalah satu-satunya instrumen ekonomi yang tidak terkena inflasi.
Selamat datang di usia dewasa. Jangan lupa bawa payung, karena di luar sana tidak hanya hujan air, tapi juga hujan tagihan dan ekspektasi sosial yang basahnya sampai ke jiwa.
Tulisan ini adalah refleksi satir atas kondisi zaman, dimaksudkan untuk memancing pemikiran kritis tanpa bermaksud merendahkan perjuangan individu mana pun.

0 Response to "Elegi Si Paling Berproses: Membedah Krisis Seperempat Abad di Tengah Badai Ekonomi"
Posting Komentar