Banyak Tahu, Tapi Tetap Salah: Kenapa Pengetahuan Tidak Selalu Mengubah Perilaku - Chapter 2
Untuk memahami mengapa filsafat kontemporer menjadi ide-ide mati ketimbang api yang menggerakkan jiwa, kita harus melacak proses pengebiriannya. Kita berada dalam era di mana "mencintai kebijaksanaan" telah direduksi menjadi "mengoleksi kutipan". Fenomena ini bukanlah sebuah kecelakaan sejarah, melainkan hasil dari pergeseran radikal dalam cara manusia mengonsumsi pengetahuan. Jika Socrates rela mati demi kebenaran yang ia yakini, manusia modern mungkin hanya rela "mengetik" demi kebenaran tersebut, itu pun jika koneksi internetnya stabil dan egonya mendapat cukup asupan validasi digital.
Oleh: D.I. Christian
TINJAUAN FILOSOFIS: GENEALOGI KEMANDULAN EKSISTENSIAL
Krisis eksistensial filsafat modern berakar pada pergeseran ontologis dari "menjadi" (being) menuju "memiliki" (having). Filsafat, yang pada mulanya adalah sebuah Ars Vivendi atau seni menjalani hidup, kini telah didegradasi menjadi sekadar komoditas intelektual. Kita tidak lagi memperlakukan pemikiran para filosof sebagai kompas moral yang menuntut transformasi diri yang menyakitkan, melainkan sebagai ornamen hiasan ego. Kita terjebak dalam fetisisme teks; kita mengoleksi kutipan-kutipan bijak di media sosial seperti mengoleksi barang, memamerkannya untuk mendapatkan validasi, sementara kehidupan personal kita tetap banal.
Pengebirian filsafat ini terjadi ketika "mengetahui" dianggap sama dengan "menjadi". Seseorang bisa dengan fasih mendebat imperatif kategoris Kant atau nihilisme Nietzsche, namun gagal menerapkan kejujuran radikal pada dirinya sendiri. Ini adalah bentuk kemunafikan intelektual yang akut.
Jika Socrates menggunakan dialektika sebagai alat untuk membongkar kepalsuan jiwa, manusia modern menggunakan filsafat sebagai perisai untuk melindungi kerapuhan egonya. Akibatnya, filsafat kehilangan "taringnya". Ia tidak lagi mengganggu kenyamanan, tidak lagi menuntut pertanggungjawaban moral, dan tidak lagi menjadi api yang membakar kebodohan. Ia hanya menjadi gema sunyi di ruang publik akademis, jauh dari realitas hidup yang sesungguhnya.
1. Dari Askesis ke Anestesi Intelektual
Pada masa kuno, filsafat adalah bentuk askesis—sebuah latihan atau disiplin diri yang bertujuan untuk mengubah ontologi si subjek. Seorang pengikut Epicurus tidak hanya membaca tentang kesenangan moderat; ia secara aktif membatasi konsumsinya untuk membuktikan bahwa kebahagiaan tidak bergantung pada kemewahan. Namun, saat ini, filsafat telah menjadi bentuk anestesi. Ia digunakan untuk membius rasa bersalah atas ketidakhadiran tindakan nyata.
Banyak intelektual menggunakan filsafat sebagai perisai untuk menghindari konfrontasi dengan realitas diri yang banal. Membicarakan keadilan sosial jauh lebih mudah daripada bersikap adil kepada tetangga atau bawahan. Di tahap ini, filsafat kehilangan fungsinya sebagai instrumen transformasi dan berubah menjadi alat pembenaran. Kita menyaksikan apa yang bisa disebut sebagai "Konser Konsep", di mana ide-ide besar seperti kebebasan, autentisitas, dan integritas diparadekan dalam diskusi-diskusi di kafe ber-AC, namun ditinggalkan di pintu keluar saat tagihan datang. Pengetahuan bukan lagi menjadi "nutrisi" bagi karakter, melainkan "lemak" bagi otak yang membuat pemiliknya malas bergerak secara moral.
2. Komodifikasi Pikiran dalam Menara Gading
Faktor kedua dari kemandulan ini adalah akademisasi filsafat yang kebablasan. Lembaga pendidikan tinggi telah berhasil mengubah dialektika yang hidup menjadi birokrasi kata-kata. Seorang mahasiswa atau dosen sering kali dinilai bukan dari seberapa jauh ia mengintegrasikan pemikiran Stoik dalam menghadapi kegagalan, melainkan dari berapa banyak kutipan peer-reviewed yang ia jejalkan dalam jurnalnya.
Filsafat telah menjadi "pekerjaan" dan bukan lagi "panggilan". Ketika filsafat menjadi profesi, ia tunduk pada hukum pasar: orisinalitas dihargai lebih tinggi daripada integritas, dan kompleksitas bahasa lebih diutamakan daripada kejelasan hidup.
Kita menciptakan para ahli yang mampu menjelaskan secara rinci tentang "Kematian Tuhan" menurut Nietzsche, namun mereka sendiri gemetar ketakutan saat saldo banknya 0. Ini adalah bentuk "Skizofrenia Akademis", di mana ada pemisahan mutlak antara subjek yang berpikir dan subjek yang bertindak. Kita menghasilkan sarjana-sarjana yang cerdas secara analitis namun cacat secara karakter—sebuah ironi yang jika dilihat dari kacamata Diogenes, mungkin akan membuatnya meludahi ruang-ruang kelas kita.
3. Jebakan Citra dan Simulakara Kebijaksanaan
Dalam era media sosial, jurang pemisah antara to know dan to be semakin diperlebar oleh kebutuhan akan citra. Pengetahuan filsafat sering kali dipamerkan sebagai aksesoris gaya hidup. Memposting foto buku Das Kapital karya Karl Marx berdampingan dengan secangkir kopi mahal memberikan ilusi bahwa pengunggahnya adalah seorang yang tenang, intelektual, dan bijaksana. Padahal, kebijaksanaan tidak terletak pada foto tersebut, melainkan pada kemampuan seseorang untuk tidak marah ketika kopinya tumpah membasahi baju Anda saat 15 menit lagi akan meeting dengan pimpinan Anda.
Inilah yang disebut Jean Baudrillard sebagai simulakara—sebuah salinan dari sesuatu yang aslinya bahkan tidak pernah ada. Kita merayakan "citra" sebagai filsuf tanpa pernah menjalani "hidup" sebagai filsuf. Filsafat diubah menjadi konten. Dan konten, pada sifat dasarnya, bersifat efemeral dan dangkal. Ia tidak menuntut komitmen; ia hanya menuntut perhatian sesaat. Akibatnya, kita menjadi komunitas "pelihat" (spectators) kehidupan, bukan "pelaku" (actors). Kita tahu segalanya tentang teori etika, namun kita kehilangan sensitivitas moral karena nurani kita telah terlapisi oleh lapisan-lapisan abstraksi teoretis yang dingin.
4. Ketakutan akan Konsekuensi Eksistensial
Terakhir, dan yang paling fundamental, adalah ketakutan manusia akan konsekuensi dari "menjadi". Mempelajari filsafat eksistensialisme Jean-Paul Sartre, misalnya, memaksa kita untuk mengakui bahwa kita sepenuhnya bertanggung jawab atas hidup kita. Ini adalah beban yang mengerikan. Mayoritas orang lebih memilih untuk tetap berada pada tahap "mengetahui" karena pengetahuan tidak menuntut apa pun selain daya ingat. Namun, "menjadi" menuntut pengorbanan kenyamanan, ego, dan sering kali status sosial.
Lebih nyaman berdebat tentang nihilisme daripada benar-benar menghadapi kehampaan makna dan membangun nilai sendiri di atasnya. Kita adalah kolektor peta yang tidak pernah berani melangkahkan kaki keluar dari rumah. Kita hafal setiap kontur gunung kebijaksanaan melalui buku-buku, namun otot kaki kita lemah karena tidak pernah mendaki secara nyata. Inilah tragedi filsafat modern: ia telah menjadi peta yang sangat detail, namun tidak ada lagi petualang yang mau menggunakannya untuk menempuh perjalanan yang berbahaya menuju diri yang lebih baik.
Sequitur: Analisis ini berlanjut secara komprehensif pada Chapter 3, atau kembali ke Chapter 1
Referensi:
- Baudrillard, Jean (1981). Simulacra and Simulation. Ann Arbor: University of Michigan Press. (Berguna untuk membedah bagaimana citra pengetahuan menggantikan esensi pengetahuan itu sendiri).
- Hadot, Pierre (2002). What is Ancient Philosophy?. Cambridge: Harvard University Press. (Memberikan kontras tajam antara praktik filsafat kuno yang transformatif dengan filsafat modern yang murni diskursif).
- Kierkegaard, Søren (1846). Concluding Unscientific Postscript to Philosophical Fragments. (Kierkegaard secara satir menyerang para profesor sistematis yang membangun istana pemikiran yang megah namun sendiri tinggal di gubuk kumuh di sampingnya—sebuah kritik atas pemisahan hidup dan pikiran).
- MacIntyre, Alasdair (1981). After Virtue: A Study in Moral Theory. Notre Dame: University of Notre Dame Press. (Membahas bagaimana bahasa moral kita telah kehilangan konteks sosial dan praktisnya, sehingga hanya menjadi potongan-potongan argumen yang tidak koheren).
- Sloterdijk, Peter (1983). Critique of Cynical Reason. Minneapolis: University of Minnesota Press. (Sangat relevan untuk membahas "kesadaran palsu yang tercerahkan"—kondisi di mana orang tahu bahwa mereka bertindak salah, namun tetap melakukannya dengan alasan intelektual).
- Nehamas, Alexander (1998). The Art of Living: Socratic Reflections from Plato to Foucault. Berkeley: University of California Press. (Mengeksplorasi kembali filsafat sebagai ekspresi karakter individu dan gaya hidup).
.png)
0 Response to "Banyak Tahu, Tapi Tetap Salah: Kenapa Pengetahuan Tidak Selalu Mengubah Perilaku - Chapter 2"
Posting Komentar