KEPADA LARAS

Sekali bicara lepas..

Mati Sudah belenggu cemas..

Eloknya paras..

Mengusir amarah buas..

Rambutnya terhias..

di tepian ombak yang deras..

Oleh: Sjahranie

Elegi di Tepian Deras

Prosa Naratif | The Social Architect Id

Sore itu, langit di ufuk barat tampak seperti luka yang mengering—oranye bercampur ungu lebam. Di bawahnya, laut sedang tidak ingin berdamai. Ombak-ombak besar menggulung, lalu pecah menghantam karang dengan dentum yang memekakkan telinga. Namun, di tengah hiruk-pikuk alam itu, Laras berdiri diam, seolah ia adalah poros dari segala kegaduhan.

"Kenapa kau selalu memilih tempat ini untuk diam?" tanya sebuah suara, memecah keheningan yang ia bangun sendiri.

Sekali bicara lepas..  Mati Sudah belenggu cemas..  Eloknya paras..  Mengusir amarah buas..  Rambutnya terhias..  di tepian ombak yang deras..  Oleh: Sjahranie  Elegi di Tepian Deras PROSA NARATIF | THE SOCIAL ARCHITECT ID Sore itu, langit di ufuk barat tampak seperti luka yang mengering—oranye bercampur ungu lebam. Di bawahnya, laut sedang tidak ingin berdamai. Ombak-ombak besar menggulung, lalu pecah menghantam karang dengan dentum yang memekakkan telinga. Namun, di tengah hiruk-pikuk alam itu, Laras berdiri diam, seolah ia adalah poros dari segala kegaduhan.  "Kenapa kau selalu memilih tempat ini untuk diam?" tanya sebuah suara, memecah keheningan yang ia bangun sendiri.    Laras tidak menoleh. Ia membiarkan angin laut yang kencang mempermainkan anak rambutnya. Rambutnya terhias di tepian ombak yang deras, berkibar-kibar seperti bendera kecil yang merayakan kesedihan atau mungkin keberanian.  Sjahranie, melangkah maju. Ia telah lama menyimpan kata-kata di bawah lidahnya, menyembunyikannya dari cahaya matahari karena takut kata-kata itu akan layu sebelum terucap. Namun, melihat punggung Laras yang tampak rapuh di hadapan samudra, ia tahu bahwa menyimpan rahasia lebih menyakitkan daripada ditolak oleh semesta.  "Laras," panggilnya lagi, kali ini lebih tegas. "Aku tidak bisa terus berpura-pura bahwa jarak ini tidak ada."  🌊 • 🌊 • 🌊 Laras akhirnya memutar tubuh. Wajahnya yang tenang terpapar sisa cahaya senja. Eloknya paras mengusir amarah buas yang sempat bergejolak di dada Sjahranie karena penantian yang panjang. Keteduhan di mata wanita itu seolah sanggup menjinakkan badai yang paling liar sekalipun.  "Katakanlah," ucap Laras lirih. Suaranya hampir tertelan deru ombak, tapi Sjahranie menangkapnya dengan seluruh jiwa.  Maka, meledaklah segala yang tertahan. Sjahranie bicara tentang rindu yang tak bertuan, tentang malam-malam yang dihabiskan dengan menghitung detak jam, dan tentang ketakutannya kehilangan sosok yang kini ada di depannya. Sekali bicara lepas, segala beban yang menghimpit dadanya seolah menguap ke udara.  Keajaiban itu terjadi seketika. Beban yang selama ini ia pikul—ketidakpastian yang menyesakkan—mendadak lenyap. Mati sudah belenggu cemas yang selama ini mengikat pergelangan kakinya, mencegahnya melangkah lebih jauh. Sjahranie merasa ringan, seolah ia bisa terbang melintasi buih-buih putih di kejauhan.  Laras tidak segera menjawab dengan kata-kata. Ia hanya melangkah mendekat, membiarkan jemarinya yang dingin menyentuh punggung tangan Sjahranie. Sebuah senyum tipis terukir, lebih indah dari rembulan yang mulai mengintip di balik awan.  Di tepian pantai yang bising itu, mereka akhirnya menemukan kesunyian yang paling merdu. Kesunyian di mana dua jiwa tak lagi perlu berteriak untuk saling mendengar, karena semua telah lunas terucap di bawah saksi deburan ombak yang tak pernah lelah pulang ke daratan.  Ditulis untuk Seseorang | Estetika Sastra 2026  KEMBALI KE SAMUDRA PIKIRAN

Laras tidak menoleh. Ia membiarkan angin laut yang kencang mempermainkan anak rambutnya. Rambutnya terhias di tepian ombak yang deras, berkibar-kibar seperti bendera kecil yang merayakan kesedihan atau mungkin keberanian.

Sjahranie, melangkah maju. Ia telah lama menyimpan kata-kata di bawah lidahnya, menyembunyikannya dari cahaya matahari karena takut kata-kata itu akan layu sebelum terucap. Namun, melihat punggung Laras yang tampak rapuh di hadapan samudra, ia tahu bahwa menyimpan rahasia lebih menyakitkan daripada ditolak oleh semesta.

"Laras," panggilnya lagi, kali ini lebih tegas. "Aku tidak bisa terus berpura-pura bahwa jarak ini tidak ada."

🌊 • 🌊 • 🌊

Laras akhirnya memutar tubuh. Wajahnya yang tenang terpapar sisa cahaya senja. Eloknya paras mengusir amarah buas yang sempat bergejolak di dada Sjahranie karena penantian yang panjang. Keteduhan di mata wanita itu seolah sanggup menjinakkan badai yang paling liar sekalipun.

"Katakanlah," ucap Laras lirih. Suaranya hampir tertelan deru ombak, tapi Sjahranie menangkapnya dengan seluruh jiwa.

Maka, meledaklah segala yang tertahan. Sjahranie bicara tentang rindu yang tak bertuan, tentang malam-malam yang dihabiskan dengan menghitung detak jam, dan tentang ketakutannya kehilangan sosok yang kini ada di depannya. Sekali bicara lepas, segala beban yang menghimpit dadanya seolah menguap ke udara.

Keajaiban itu terjadi seketika. Beban yang selama ini ia pikul—ketidakpastian yang menyesakkan—mendadak lenyap. Mati sudah belenggu cemas yang selama ini mengikat pergelangan kakinya, mencegahnya melangkah lebih jauh. Sjahranie merasa ringan, seolah ia bisa terbang melintasi buih-buih putih di kejauhan.

Laras tidak segera menjawab dengan kata-kata. Ia hanya melangkah mendekat, membiarkan jemarinya yang dingin menyentuh punggung tangan Sjahranie. Sebuah senyum tipis terukir, lebih indah dari rembulan yang mulai mengintip di balik awan.

Di tepian pantai yang bising itu, mereka akhirnya menemukan kesunyian yang paling merdu. Kesunyian di mana dua jiwa tak lagi perlu berteriak untuk saling mendengar, karena semua telah lunas terucap di bawah saksi deburan ombak yang tak pernah lelah pulang ke daratan.

Untuk Seseorang | Estetika Sastra | The Architect Sosial Id

Kembali ke Samudra Pikiran

Subscribe untuk mendapatkan update terbaru dari kami:

0 Response to "KEPADA LARAS"

Posting Komentar