Tuhan Sudah Pensiun, Kapan Anda Mulai Bangkit?

"Saya bukan seorang manusia, saya adalah sebuah dinamit!"
"Yang penting bukanlah kehidupan kekal (das ewige Leben), melainkan kekalnya 'yang menghidupkan' (die ewige Lebendigkeit)!"
"Tuhan sudah mati"

Oleh: D.I. Christian

"Saya bukan seorang manusia, saya adalah sebuah dinamit!" "Yang penting bukanlah kehidupan kekal (das ewige Leben), melainkan kekalnya 'yang menghidupkan' (die ewige Lebendigkeit)!" "Tuhan sudah mati"  Oleh: D.I. Christian    Selamat Tinggal "Dunia Atas", Selamat Datang di Lumpur Kehidupan Nietzsche, dengan segala kejengkelannya terhadap moralitas tradisional, mengajarkan kita satu hal: berhenti menatap langit sambil berharap ada yang akan menyelamatkan cicilan bulanan anda. Itulah esensi Ubermensch. Ini bukan tentang menjadi pahlawan super Marvel yang bisa terbang dengan jubah merah, melainkan tentang menjadi manusia yang cukup "waras" untuk menciptakan nilai-nilainya sendiri.  Selama berabad-abad, manusia sibuk menjadi "Hewan Ternak" yang patuh. Kita disuruh takut pada neraka, berharap pada surga, dan hidup dengan moralitas yang lebih mengekang daripada korset abad pertengahan. Lalu datanglah Nietzsche sambil berteriak, "Ubermensch adalah makna dunia ini!"      Lihatlah, aku mengajarkan Ubermensch kepadamu.Ubermensch adalah makna dunia ini.Biarkanlah kehendakmu berseru.Hendaknya Ubermensch menjadi makna dunia ini. (Also Sprach Zarathustra) Dia ingin kita berhenti menjadi parasit metafisika. Mengapa mencari makna di "seberang sana" jika Anda bahkan belum bisa membereskan kekacauan di diri Anda sendiri? Ubermensch adalah sosok yang berani berkata "Ya" pada hidup, bahkan ketika hidup itu sendiri terasa seperti komedi putar yang rusak dan penuh karat. Kehendak untuk Berkuasa: Bukan Tentang Menjadi Diktator Seringkali, orang-orang dengan literasi rendah salah mengira Wille zur Macht (Kehendak untuk Berkuasa) sebagai izin untuk menjadi tiran kecil di kantor atau di rumah.Kekuasaan yang dimaksud adalah penguasaan diri. Ini adalah motif untuk mengatasi diri sendiri (Selbstuberwindung). Jika Anda masih belum bisa menahan diri untuk tidak mengamuk saat sinyal internet lambat, lupakan soal menjadi Ubermensch. Anda masih berada di level "binatang yang belum selesai".  Nietzsche sangat gemar dengan metafora peperangan. Mengapa? Karena dia tahu bahwa kenyamanan adalah pembunuh potensi yang paling efektif. Tanpa konflik, tanpa hambatan, otot mental kita akan menjadi lembek. Dia ingin kita bertarung—bukan dengan pedang melawan tetangga—tapi bertarung melawan kemalasan, melawan nilai-nilai basi yang kita telan bulat-bulat dari lingkungan, dan melawan keinginan untuk menjadi "biasa-biasa saja". Moral Tuan vs. Moral Budak: Pilihan yang Menyakitkan Mari kita bicara jujur. Kebanyakan dari kita masih mengidap Moralitas Budak. Kita suka merasa bangga dengan penderitaan, merasa suci karena rendah hati (yang sebenarnya seringkali hanyalah rendah diri yang disamarkan), dan menganggap kesuksesan orang lain sebagai dosa.  Ubermensch harus beralih ke Moralitas Tuan. Ini bukan berarti Anda boleh menindas orang lain. Moralitas Tuan berarti Anda adalah pencipta nilai. Anda tidak bertanya, "Apa yang orang lain katakan tentang saya?" tapi Anda bertanya, "Apa yang saya katakan tentang dunia saya?" Agama, dalam pandangan Nietzsche, seringkali menjadi rem tangan bagi evolusi mental ini. Mengapa? Karena agama cenderung memberikan jawaban instan dan menghibur bagi mereka yang takut pada kegelapan eksistensi. Tapi bagi calon Ubermensch, kegelapan itu adalah kanvas, bukan ancaman. Jembatan Di Atas Jurang: Antara Kera dan Manusia Atas Nietzsche menyebut manusia sebagai "tali yang terentang di antara binatang dan Ubermensch—tali di atas jurang." Posisi yang sangat tidak nyaman, bukan? Kaki kiri masih di wilayah naluri kebinatangan yang liar, sementara kaki kanan mencoba menggapai kemuliaan manusia unggul.  Bahayanya adalah kita seringkali terlalu nyaman di tengah-tengah. Kita tidak cukup liar untuk menjadi binatang yang jujur, tapi tidak cukup berani untuk menjadi manusia yang berdaulat. Kita berakhir menjadi makhluk transisional yang bingung, yang sibuk memposting kutipan motivasi di media sosial tapi gemetar saat harus membuat keputusan besar yang melawan arus. Optimalitas Sekarang, Bukan Nanti Ubermensch adalah kemungkinan paling optimal bagi seseorang di waktu sekarang. Ini adalah pukulan telak bagi para pemimpi yang selalu berkata, "Suatu hari nanti aku akan menjadi hebat." Nietzsche tidak peduli dengan "suatu hari nanti". Jika Anda tidak bisa menunjukkan kehendak untuk berkuasa atas diri Anda hari ini—saat Anda bangun tidur, saat Anda menghadapi kegagalan, saat Anda dikritik—maka Ubermensch hanyalah sekadar dongeng pengantar tidur lainnya.  Secara esensi, menjadi Ubermensch adalah sebuah bentuk pemberontakan yang elegan. Ini adalah Zen Buddhisme dengan tambahan adrenalin dan sedikit amarah yang konstruktif. Anda tidak perlu menunggu izin siapa pun untuk menjadi sumber nilai bagi diri Anda sendiri.  Jadi, pilihannya ada di tangan Anda: mau tetap menjadi "hewan ternak" yang bahagia dalam ketidaktahuannya, atau mulai menyeberangi jembatan berbahaya itu menuju kemandirian yang sejati? Ingat, pemandangannya jauh lebih bagus dari atas sana, meski anginnya memang sedikit lebih kencang.

Selamat Tinggal "Dunia Atas", Selamat Datang di Lumpur Kehidupan

Nietzsche, dengan segala kejengkelannya terhadap moralitas tradisional, mengajarkan kita satu hal: berhenti menatap langit sambil berharap ada yang akan menyelamatkan cicilan bulanan anda. Itulah esensi Ubermensch. Ini bukan tentang menjadi pahlawan super Marvel yang bisa terbang dengan jubah merah, melainkan tentang menjadi manusia yang cukup "waras" untuk menciptakan nilai-nilainya sendiri.

Selama berabad-abad, manusia sibuk menjadi "Hewan Ternak" yang patuh. Kita disuruh takut pada neraka, berharap pada surga, dan hidup dengan moralitas yang lebih mengekang daripada korset abad pertengahan. Lalu datanglah Nietzsche sambil berteriak, "
Ubermensch adalah makna dunia ini!"

    Lihatlah, aku mengajarkan Ubermensch kepadamu.Ubermensch adalah makna dunia ini.Biarkanlah kehendakmu berseru.Hendaknya Ubermensch menjadi makna dunia ini.
(Also Sprach Zarathustra)

Dia ingin kita berhenti menjadi parasit metafisika. Mengapa mencari makna di "seberang sana" jika Anda bahkan belum bisa membereskan kekacauan di diri Anda sendiri? Ubermensch adalah sosok yang berani berkata "Ya" pada hidup, bahkan ketika hidup itu sendiri terasa seperti komedi putar yang rusak dan penuh karat.

Kehendak untuk Berkuasa: Bukan Tentang Menjadi Diktator

Seringkali, orang-orang dengan literasi rendah salah mengira Wille zur Macht (Kehendak untuk Berkuasa) sebagai izin untuk menjadi tiran kecil di kantor atau di rumah.Kekuasaan yang dimaksud adalah penguasaan diri. Ini adalah motif untuk mengatasi diri sendiri (Selbstuberwindung). Jika Anda masih belum bisa menahan diri untuk tidak mengamuk saat sinyal internet lambat, lupakan soal menjadi Ubermensch. Anda masih berada di level "binatang yang belum selesai".

Nietzsche sangat gemar dengan metafora peperangan. Mengapa? Karena dia tahu bahwa kenyamanan adalah pembunuh potensi yang paling efektif. Tanpa konflik, tanpa hambatan, otot mental kita akan menjadi lembek. Dia ingin kita bertarung—bukan dengan pedang melawan tetangga—tapi bertarung melawan kemalasan, melawan nilai-nilai basi yang kita telan bulat-bulat dari lingkungan, dan melawan keinginan untuk menjadi "biasa-biasa saja".

Moral Tuan vs. Moral Budak: Pilihan yang Menyakitkan

Mari kita bicara jujur. Kebanyakan dari kita masih mengidap Moralitas Budak. Kita suka merasa bangga dengan penderitaan, merasa suci karena rendah hati (yang sebenarnya seringkali hanyalah rendah diri yang disamarkan), dan menganggap kesuksesan orang lain sebagai dosa.

Ubermensch harus beralih ke Moralitas Tuan. Ini bukan berarti Anda boleh menindas orang lain. Moralitas Tuan berarti Anda adalah pencipta nilai. Anda tidak bertanya, "Apa yang orang lain katakan tentang saya?" tapi Anda bertanya, "Apa yang saya katakan tentang dunia saya?"
Agama, dalam pandangan Nietzsche, seringkali menjadi rem tangan bagi evolusi mental ini. Mengapa? Karena agama cenderung memberikan jawaban instan dan menghibur bagi mereka yang takut pada kegelapan eksistensi. Tapi bagi calon Ubermensch, kegelapan itu adalah kanvas, bukan ancaman.
Jembatan Di Atas Jurang: Antara Kera dan Manusia Atas
Nietzsche menyebut manusia sebagai "tali yang terentang di antara binatang dan 
Ubermensch—tali di atas jurang." Posisi yang sangat tidak nyaman, bukan? Kaki kiri masih di wilayah naluri kebinatangan yang liar, sementara kaki kanan mencoba menggapai kemuliaan manusia unggul.

Bahayanya adalah kita seringkali terlalu nyaman di tengah-tengah. Kita tidak cukup liar untuk menjadi binatang yang jujur, tapi tidak cukup berani untuk menjadi manusia yang berdaulat. Kita berakhir menjadi makhluk transisional yang bingung, yang sibuk memposting kutipan motivasi di media sosial tapi gemetar saat harus membuat keputusan besar yang melawan arus.

Optimalitas Sekarang, Bukan Nanti

Ubermensch adalah kemungkinan paling optimal bagi seseorang di waktu sekarang. Ini adalah pukulan telak bagi para pemimpi yang selalu berkata, "Suatu hari nanti aku akan menjadi hebat." Nietzsche tidak peduli dengan "suatu hari nanti". Jika Anda tidak bisa menunjukkan kehendak untuk berkuasa atas diri Anda hari ini—saat Anda bangun tidur, saat Anda menghadapi kegagalan, saat Anda dikritik—maka Ubermensch hanyalah sekadar dongeng pengantar tidur lainnya.

Secara esensi, menjadi 
Ubermensch adalah sebuah bentuk pemberontakan yang elegan. Ini adalah Zen Buddhisme dengan tambahan adrenalin dan sedikit amarah yang konstruktif. Anda tidak perlu menunggu izin siapa pun untuk menjadi sumber nilai bagi diri Anda sendiri.

Jadi, pilihannya ada di tangan Anda: mau tetap menjadi "hewan ternak" yang bahagia dalam ketidaktahuannya, atau mulai menyeberangi jembatan berbahaya itu menuju kemandirian yang sejati? Ingat, pemandangannya jauh lebih bagus dari atas sana, meski anginnya memang sedikit lebih kencang.


Selanjutnya, episode 3: Antropologi Manusia Ternak: Mengapa Anda Masih Nyaman di Dalam Kandang?

Sebelumnya, episode 1: NIETZSCHE: EKSISTENSIALISME (UBERMENSCH) - PROLOG

Subscribe untuk mendapatkan update terbaru dari kami:

0 Response to "Tuhan Sudah Pensiun, Kapan Anda Mulai Bangkit?"

Posting Komentar