Di Balik Label ‘Sesat’: Membaca Ulang Sejarah Mazhab Syiah (Chapter: 1)

Sungguh ironis melihat bagaimana narasi "Syiah buatan Yahudi" terus diproduksi oleh mereka yang malas membaca. Jika kita menilik karya Wilferd Madelung, The Succession to Muhammad, kita akan mendapati bahwa suksesi kepemimpinan dalam Islam awal sangat dipengaruhi oleh tradisi keluarga para Nabi terdahulu di dalam Al-Qur'an. Dalam hal ini, klaim Ali bukanlah penyimpangan, melainkan pemahaman yang sangat "Al-Qur'anis" terhadap suksesi.
Oleh: D.I. Christian

Pendahuluan: Dekonstruksi Stigma

Di tengah masifnya informasi digital yang kian sesak, sering sekali kita menemukan individu yang dengan penuh percaya diri melemparkan vonis "sesat", “kafir” terhadap Syiah, seolah-olah sejarah Islam adalah sebuah garis lurus tanpa dialektika. Narasi populer yang dangkal sering kali menuduh Syiah sebagai "proyek konspirasi" seorang Abdullah bin Saba—sebuah karakter yang oleh banyak sejarawan serius dianggap lebih menyerupai mitos ketimbang fakta sosiologis yang menentukan. [1]

Mari kita mulai dengan kejernihan terminologi. Secara etimologis, kata Shi’ah berasal dari bahasa Arab yang berarti pengikut, pembela, atau faksi. Dalam konteks awal Islam, istilah Shi’at Ali (Pengikut Ali) bukanlah sebuah label sekte keagamaan yang eksklusif, melainkan sebuah identitas politik-spiritual yang lahir secara organik dari rahim dinamika umat pasca-wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M. [2]

OLEH: D.I. CHRISTIAN Pendahuluan: Dekonstruksi Stigma Di tengah masifnya informasi digital yang kian sesak, sering sekali kita menemukan individu yang dengan penuh percaya diri melemparkan vonis "sesat", “kafir” terhadap Syiah, seolah-olah sejarah Islam adalah sebuah garis lurus tanpa dialektika. Narasi populer yang dangkal sering kali menuduh Syiah sebagai "proyek konspirasi" seorang Abdullah bin Saba—sebuah karakter yang oleh banyak sejarawan serius dianggap lebih menyerupai mitos ketimbang fakta sosiologis yang menentukan. [1]  Mari kita mulai dengan kejernihan terminologi. Secara etimologis, kata Shi’ah berasal dari bahasa Arab yang berarti pengikut, pembela, atau faksi. Dalam konteks awal Islam, istilah Shi’at Ali (Pengikut Ali) bukanlah sebuah label sekte keagamaan yang eksklusif, melainkan sebuah identitas politik-spiritual yang lahir secara organik dari rahim dinamika umat pasca-wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M. [2]  Menuduh Syiah sebagai "ajaran baru" adalah sebuah anomali logika. Benih-benih loyalitas kepada Ali bin Abi Thalib sudah bersemi bahkan saat jasad Rasulullah SAW belum disemayamkan. Disaat sebagian besar sahabat berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah untuk menentukan suksesi kepemimpinan melalui negosiasi politik yang alot, faksi Ahlul Bait dan para loyalisnya justru sedang sibuk dengan duka dan penghormatan terakhir bagi sang Nabi. [3] Di sinilah letak diferensiasi awal: antara mereka yang mendahulukan pragmatisme politik (khilafah) dan mereka yang meyakini adanya kontinuitas kepemimpinan spiritual (imamah). Kita perlu bertanya kepada para pembenci: apakah mereka cukup berani membuka lembaran primary sources untuk melihat betapa cairnya situasi politik di Madinah saat itu? Keresahan sosial-politik pasca-wafatnya Nabi bukanlah fenomena sederhana. Ada ketegangan antara kaum Muhajirin dan Ansar, serta antara klan-klan besar Quraisy. Di tengah turbulensi ini, tokoh-tokoh kunci seperti Ammar bin Yasir, Abu Dzarr al-Ghifari, dan Salman al-Farisi secara konsisten menyuarakan bahwa Ali bin Abi Thalib memiliki kualifikasi unik yang tidak dimiliki oleh kandidat lain. [4]  Situasi di Saqifah Bani Sa’idah adalah laga politik pertama dalam Islam. Nama-nama seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Abu Ubaidah bin Jarrah mewakili kelompok yang meyakini bahwa pemimpin harus dipilih berdasarkan konsensus suku. Di sisi lain, Shi’at Ali melihat kepemimpinan sebagai mandat yang telah diisyaratkan sejak peristiwa Ghadir Khum. Mengabaikan eksistensi faksi Ali pada masa awal ini adalah bentuk amputasi sejarah yang ceroboh. [5]  Sungguh ironis melihat bagaimana narasi "Syiah buatan Yahudi" terus diproduksi oleh mereka yang malas membaca. Jika kita menilik karya Wilferd Madelung, The Succession to Muhammad, kita akan mendapati bahwa suksesi kepemimpinan dalam Islam awal sangat dipengaruhi oleh tradisi keluarga para Nabi terdahulu di dalam Al-Qur'an. Dalam hal ini, klaim Ali bukanlah penyimpangan, melainkan pemahaman yang sangat "Al-Qur'anis" terhadap suksesi. [6]  Kelompok loyalis Ali ini bukanlah orang luar. Mereka adalah lingkaran dalam (inner circle) Nabi. Menganggap mereka sebagai "penyusup" sama saja dengan menghina kecerdasan para sahabat yang sejak awal berdiri tegak di samping Ali. Kepentingan mereka bukanlah kekuasaan duniawi semata, melainkan penjagaan terhadap otoritas esoteris yang mereka yakini diwariskan secara khusus kepada Ali melalui otoritas kenabian. [7]  Mengapa sejarah ini sering diputarbalikkan? Karena sejarah sering kali ditulis oleh mereka yang memegang kendali atas struktur kekuasaan formal. Bagi dinasti-dinasti setelah era Khulafaur Rasyidin, terutama Umayyah, narasi tentang keutamaan keluarga Nabi dianggap sebagai ancaman stabilitas. Maka, dilakukanlah marjinalisasi sistematis terhadap pengikut Ali melalui instrumen politik dan propaganda. [8]  Fakta sejarah menunjukkan bahwa situasi di bawah kekuasaan Utsman bin Affan semakin memperuncing perbedaan ini. Kebijakan nepotisme yang menguntungkan klan Umayyah (seperti pengangkatan Marwan bin al-Hakam dan al-Walid bin Uqba) memicu keresahan luas di provinsi-provinsi Islam. [9]  Di titik ini, faksi Ali semakin solid bukan karena keinginan untuk memecah belah, melainkan sebagai bentuk respons moral terhadap apa yang mereka anggap sebagai penyimpangan dari nilai-nilai keadilan sosial yang diajarkan Nabi. [10]  Jadi, ketika seseorang dengan begitu entengnya menyebut Syiah sebagai "sempalan", mereka sebenarnya sedang menunjukkan ketidakpahamannya terhadap konsep asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya) sebuah gerakan sosial. Gerakan Syiah adalah respons alami terhadap ketidakpastian sosiologis yang menghantam umat Islam segera setelah figur sentral mereka wafat. Ini adalah masalah interpretasi atas otoritas, bukan invensi ajaran baru. [11]  Mari kita gunakan sedikit logika: Jika Syiah adalah "proyek konspirasi", maka kita harus mengakui bahwa para "konspirator" tersebut adalah para sahabat nabi yang paling zuhud dan setia. Apakah masuk akal jika sosok sekaliber Abu Dzarr al-Ghifari, yang diasingkan ke al-Rabdha karena kritik tajamnya terhadap akumulasi kekayaan elit Umayyah, tertipu oleh sebuah konspirasi gelap? [12]  Dalam diskursus ilmiah, kita mengenal istilah "reproduksi sosial" yang dibahas oleh Pierre Bourdieu. Dalam konteks ini, sejarah Syiah sering kali menjadi objek reproduksi sosial stigma yang diwariskan secara turun-temurun tanpa pernah dikalibrasi ulang dengan data autentik. [13]  Para pembenci Syiah sering kali hanya mengulang-ulang residu kebencian dari era propaganda Dinasti Umayyah yang dilembagakan untuk menjaga stabilitas kekuasaan mereka. [14]  Untuk memahami Syiah secara utuh, seseorang harus bersedia menanggalkan kacamata hitam penuh prasangka dan mulai berani mengeksplorasi literatur primer seperti Nahjul Balagha atau catatan-catatan sejarah dari sejarawan objektif seperti S.H.M. Jafri. Jafri secara brilian menjelaskan bahwa identitas Syiah memiliki dua dimensi yang tak terpisahkan: loyalitas politik kepada Ali dan keyakinan akan keunggulan spiritual-intelektual keluarga Nabi. [15]  Penolakan terhadap fakta sejarah ini sering kali dibalut dengan argumen-argumen teologis yang seolah-olah "suci", padahal intinya adalah ketakutan akan keberbedaan (the other). Mengakui bahwa Syiah lahir secara organik berarti mengakui bahwa sejarah Islam sejak awal memang penuh dengan keragaman perspektif. [16] Dan bagi sebagian orang, keragaman adalah hantu yang menakutkan bagi kemapanan status quo yang mereka nikmati.  Kita juga tidak bisa mengabaikan latar belakang kepentingan ekonomi dan kekuasaan di balik pelabelan negatif ini. Dengan menetapkan Syiah sebagai "musuh di dalam selimut", para penguasa tirani di berbagai periode sejarah Islam mendapatkan legitimasi untuk membungkam setiap gerakan oposisi yang menggunakan narasi keadilan ala Ali dan Husain. Ini adalah taktik politik klasik: menciptakan musuh bersama untuk mengalihkan isu-isu kegagalan pemerintahan. [17] Oleh karena itu, dekonstruksi stigma terhadap Syiah bukan hanya soal membela sebuah mazhab, melainkan soal membela integritas sejarah itu sendiri. Kita sedang membela hak setiap manusia untuk melihat masa lalu secara jujur, tanpa sensor dari para pemegang otoritas moral gadungan. [18] Tanpa keberanian untuk membedah sejarah secara kritis, kita hanya akan menjadi pewaris kebencian yang buta huruf.  Sebagai penutup bagian pendahuluan ini, mari kita garis bawahi sekali lagi: Syiah bukanlah sebuah kecelakaan sejarah, apalagi sebuah kreasi dari luar Islam. Ia adalah manifestasi dari pergulatan gagasan tentang keadilan, kepemimpinan, dan kesucian yang melekat erat pada jantung sejarah Islam itu sendiri. [19] Siapa pun yang mencoba menghapusnya dari peta sejarah Islam, sebenarnya sedang mencoba menghapus sebagian besar dari warisan intelektual dan spiritual umat itu sendiri.  Bersambung..  LANJUT KE CHAPTER 2 → REFERENSI: [1] Hodgson, Marshall G.S. The Venture of Islam, Volume 1: The Classical Age of Islam. University of Chicago Press, 1974, hlm. 218. [2] Watt, W. Montgomery. The Formative Period of Islamic Thought. Edinburgh University Press, 1973, hlm. 38-40. [3] Jafri, S.H.M. The Origins and Early Development of Shi'a Islam. Oxford University Press, 2002, hlm. 34-40. [4] Momen, Moojan. An Introduction to Shi'i Islam: The History and Doctrines of Twelver Shi'ism. Yale University Press, 1985, hlm. 16-17. [5] Madelung, Wilferd. The Succession to Muhammad: A Study of the Early Caliphate. Cambridge University Press, 1997, hlm. 28-31. [6] Ibid., hlm. 13-17. [7] Corbin, Henry. History of Islamic Philosophy. Kegan Paul International, 1993, hlm. 25-30. [8] Daftary, Farhad. A Short History of the Ismailis. Edinburgh University Press, 1998, hlm. 21-23. [9] Lapidus, Ira M. A History of Islamic Societies. Cambridge University Press, 2002, hlm. 46-47. [10] Madelung, Wilferd. The Succession to Muhammad. Cambridge University Press, 1997, hlm. 81-113. [11] Shaban, M.A. Islamic History: A New Interpretation. Cambridge University Press, 1971, hlm. 72-75. [12] Tabataba'i, Sayyid Muhammad Husayn. Shi'ite Islam. SUNY Press, 1975, hlm. 45-47. [13] Bourdieu, Pierre. Reproduction in Education, Society and Culture. Sage Publications, 1990. [14] Lewis, Bernard. The Arabs in History. Oxford University Press, 2002, hlm. 68-70. [15] Jafri, S.H.M. The Origins and Early Development of Shi'a Islam. Oxford University Press, 2002, hlm. 2-3. [16] Armstrong, Karen. Islam: A Short History. Modern Library, 2000, hlm. 33-35. [17] Black, Antony. The History of Islamic Political Thought. Edinburgh University Press, 2001, hlm. 18-20. [18] Khalidi, Tarif. Arabic Historical Thought in the Classical Period. Cambridge University Press, 1994, hlm. 63. [19] Nasr, Seyyed Hossein. Ideals and Realities of Islam. Beacon Press, 1972, hlm. 147-150.

Menuduh Syiah sebagai "ajaran baru" adalah sebuah anomali logika. Benih-benih loyalitas kepada Ali bin Abi Thalib sudah bersemi bahkan saat jasad Rasulullah SAW belum disemayamkan. Disaat sebagian besar sahabat berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah untuk menentukan suksesi kepemimpinan melalui negosiasi politik yang alot, faksi Ahlul Bait dan para loyalisnya justru sedang sibuk dengan duka dan penghormatan terakhir bagi sang Nabi.
[3] Di sinilah letak diferensiasi awal: antara mereka yang mendahulukan pragmatisme politik (khilafah) dan mereka yang meyakini adanya kontinuitas kepemimpinan spiritual (imamah).

Kita perlu bertanya kepada para pembenci: apakah mereka cukup berani membuka lembaran primary sources untuk melihat betapa cairnya situasi politik di Madinah saat itu? Keresahan sosial-politik pasca-wafatnya Nabi bukanlah fenomena sederhana. Ada ketegangan antara kaum Muhajirin dan Ansar, serta antara klan-klan besar Quraisy. Di tengah turbulensi ini, tokoh-tokoh kunci seperti Ammar bin Yasir, Abu Dzarr al-Ghifari, dan Salman al-Farisi secara konsisten menyuarakan bahwa Ali bin Abi Thalib memiliki kualifikasi unik yang tidak dimiliki oleh kandidat lain. [4]

Situasi di Saqifah Bani Sa’idah adalah laga pertarungan politik internal pertama dalam Islam. Nama-nama seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Abu Ubaidah bin Jarrah mewakili kelompok yang meyakini bahwa pemimpin harus dipilih berdasarkan konsensus suku. Di sisi lain, Shi’at Ali melihat kepemimpinan sebagai mandat yang telah diisyaratkan sejak peristiwa Ghadir Khum. Mengabaikan eksistensi faksi Ali pada masa awal ini adalah bentuk amputasi sejarah yang ceroboh. [5]

Sungguh ironis melihat bagaimana narasi "Syiah buatan Yahudi" terus diproduksi oleh mereka yang malas membaca. Jika kita menilik karya Wilferd Madelung, The Succession to Muhammad, kita akan mendapati bahwa suksesi kepemimpinan dalam Islam awal sangat dipengaruhi oleh tradisi keluarga para Nabi terdahulu di dalam Al-Qur'an. Dalam hal ini, klaim Ali bukanlah penyimpangan, melainkan pemahaman yang sangat "Al-Qur'anis" terhadap suksesi. [6]

Kelompok loyalis Ali ini bukanlah orang luar. Mereka adalah lingkaran dalam (inner circle) Nabi. Menganggap mereka sebagai "penyusup" sama saja dengan menghina kecerdasan para sahabat yang sejak awal berdiri tegak di samping Ali. Kepentingan mereka bukanlah kekuasaan duniawi semata, melainkan penjagaan terhadap otoritas esoteris yang mereka yakini diwariskan secara khusus kepada Ali melalui otoritas kenabian. [7]

Mengapa sejarah ini sering diputarbalikkan? Karena sejarah sering kali ditulis oleh mereka yang memegang kendali atas struktur kekuasaan formal. Bagi dinasti-dinasti setelah era Khulafaur Rasyidin, terutama Umayyah, narasi tentang keutamaan keluarga Nabi dianggap sebagai ancaman stabilitas. Maka, dilakukanlah marjinalisasi sistematis terhadap pengikut Ali melalui instrumen politik dan propaganda. [8]

Fakta sejarah menunjukkan bahwa situasi di bawah kekuasaan Utsman bin Affan semakin memperuncing perbedaan ini. Kebijakan nepotisme yang menguntungkan klan Umayyah (seperti pengangkatan Marwan bin al-Hakam dan al-Walid bin Uqba) memicu keresahan luas di provinsi-provinsi Islam. [9]

Di titik ini, faksi Ali semakin solid bukan karena keinginan untuk memecah belah, melainkan sebagai bentuk respons moral terhadap apa yang mereka anggap sebagai penyimpangan dari nilai-nilai keadilan sosial yang diajarkan Nabi. [10]

Jadi, ketika seseorang dengan begitu entengnya menyebut Syiah sebagai "sempalan", mereka sebenarnya sedang menunjukkan ketidakpahamannya terhadap konsep asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya) sebuah gerakan sosial. Gerakan Syiah adalah respons alami terhadap ketidakpastian sosiologis yang menghantam umat Islam segera setelah figur sentral mereka wafat. Ini adalah masalah interpretasi atas otoritas, bukan invensi ajaran baru. [11]

Mari kita gunakan sedikit logika: Jika Syiah adalah "proyek konspirasi", maka kita harus mengakui bahwa para "konspirator" tersebut adalah para sahabat nabi yang paling zuhud dan setia. Apakah masuk akal jika sosok sekaliber Abu Dzarr al-Ghifari, yang diasingkan ke al-Rabdha karena kritik tajamnya terhadap akumulasi kekayaan elit Umayyah, tertipu oleh sebuah konspirasi gelap? [12]

Dalam diskursus ilmiah, kita mengenal istilah "reproduksi sosial" yang dibahas oleh Pierre Bourdieu. Dalam konteks ini, sejarah Syiah sering kali menjadi objek reproduksi sosial stigma yang diwariskan secara turun-temurun tanpa pernah dikalibrasi ulang dengan data autentik. [13]

Para pembenci Syiah sering kali hanya mengulang-ulang residu kebencian dari era propaganda Dinasti Umayyah yang dilembagakan untuk menjaga stabilitas kekuasaan mereka. [14]

Untuk memahami Syiah secara utuh, seseorang harus bersedia menanggalkan kacamata hitam penuh prasangka dan mulai berani mengeksplorasi literatur primer seperti Nahjul Balagha atau catatan-catatan sejarah dari sejarawan objektif seperti S.H.M. Jafri. Jafri secara brilian menjelaskan bahwa identitas Syiah memiliki dua dimensi yang tak terpisahkan: loyalitas politik kepada Ali dan keyakinan akan keunggulan spiritual-intelektual keluarga Nabi. [15]

Penolakan terhadap fakta sejarah ini sering kali dibalut dengan argumen-argumen teologis yang seolah-olah "suci", padahal intinya adalah ketakutan akan keberbedaan (the other). Mengakui bahwa Syiah lahir secara organik berarti mengakui bahwa sejarah Islam sejak awal memang penuh dengan keragaman perspektif. [16] Dan bagi sebagian orang, keragaman adalah hantu yang menakutkan bagi kemapanan status quo yang mereka nikmati.

Kita juga tidak bisa mengabaikan latar belakang kepentingan ekonomi dan kekuasaan di balik pelabelan negatif ini. Dengan menetapkan Syiah sebagai "musuh di dalam selimut", para penguasa tirani di berbagai periode sejarah Islam mendapatkan legitimasi untuk membungkam setiap gerakan oposisi yang menggunakan narasi keadilan ala Ali dan Husain. Ini adalah taktik politik klasik: menciptakan musuh bersama untuk mengalihkan isu-isu kegagalan pemerintahan. [17] Oleh karena itu, dekonstruksi stigma terhadap Syiah bukan hanya soal membela sebuah mazhab, melainkan soal membela integritas sejarah itu sendiri. Kita sedang membela hak setiap manusia untuk melihat masa lalu secara jujur, tanpa sensor dari para pemegang otoritas moral gadungan. [18] Tanpa keberanian untuk membedah sejarah secara kritis, kita hanya akan menjadi pewaris kebencian yang buta huruf.

Sebagai penutup bagian pendahuluan ini, mari kita garis bawahi sekali lagi: Syiah bukanlah sebuah kecelakaan sejarah, apalagi sebuah kreasi dari luar Islam. Ia adalah manifestasi dari pergulatan gagasan tentang keadilan, kepemimpinan, dan kesucian yang melekat erat pada jantung sejarah Islam itu sendiri. [19] Siapa pun yang mencoba menghapusnya dari peta sejarah Islam, sebenarnya sedang mencoba menghapus sebagian besar dari warisan intelektual dan spiritual umat itu sendiri.

Bersambung..

Lanjut ke Chapter 2 →

Referensi:

  • [1] Hodgson, Marshall G.S. The Venture of Islam, Volume 1: The Classical Age of Islam. University of Chicago Press, 1974, hlm. 218.
  • [2] Watt, W. Montgomery. The Formative Period of Islamic Thought. Edinburgh University Press, 1973, hlm. 38-40.
  • [3] Jafri, S.H.M. The Origins and Early Development of Shi'a Islam. Oxford University Press, 2002, hlm. 34-40.
  • [4] Momen, Moojan. An Introduction to Shi'i Islam: The History and Doctrines of Twelver Shi'ism. Yale University Press, 1985, hlm. 16-17.
  • [5] Madelung, Wilferd. The Succession to Muhammad: A Study of the Early Caliphate. Cambridge University Press, 1997, hlm. 28-31.
  • [6] Ibid., hlm. 13-17.
  • [7] Corbin, Henry. History of Islamic Philosophy. Kegan Paul International, 1993, hlm. 25-30.
  • [8] Daftary, Farhad. A Short History of the Ismailis. Edinburgh University Press, 1998, hlm. 21-23.
  • [9] Lapidus, Ira M. A History of Islamic Societies. Cambridge University Press, 2002, hlm. 46-47.
  • [10] Madelung, Wilferd. The Succession to Muhammad. Cambridge University Press, 1997, hlm. 81-113.
  • [11] Shaban, M.A. Islamic History: A New Interpretation. Cambridge University Press, 1971, hlm. 72-75.
  • [12] Tabataba'i, Sayyid Muhammad Husayn. Shi'ite Islam. SUNY Press, 1975, hlm. 45-47.
  • [13] Bourdieu, Pierre. Reproduction in Education, Society and Culture. Sage Publications, 1990.
  • [14] Lewis, Bernard. The Arabs in History. Oxford University Press, 2002, hlm. 68-70.
  • [15] Jafri, S.H.M. The Origins and Early Development of Shi'a Islam. Oxford University Press, 2002, hlm. 2-3.
  • [16] Armstrong, Karen. Islam: A Short History. Modern Library, 2000, hlm. 33-35.
  • [17] Black, Antony. The History of Islamic Political Thought. Edinburgh University Press, 2001, hlm. 18-20.
  • [18] Khalidi, Tarif. Arabic Historical Thought in the Classical Period. Cambridge University Press, 1994, hlm. 63.
  • [19] Nasr, Seyyed Hossein. Ideals and Realities of Islam. Beacon Press, 1972, hlm. 147-150.

Subscribe untuk mendapatkan update terbaru dari kami:

0 Response to "Di Balik Label ‘Sesat’: Membaca Ulang Sejarah Mazhab Syiah (Chapter: 1)"

Posting Komentar