Di Balik Label ‘Sesat’: Membaca Ulang Sejarah Mazhab Syiah (Chapter 6 - Final)

500 ulama lebih, dari 84 negara—secara resmi mengakui mazhab Syiah Jafari dan Zaidiyah sebagai bagian tak perpisahkan dari umat Islam.
Oleh: D.I. Christian

Penutup: Menjawab Fitnah & Narasi Persatuan

A. Risalah Amman: Legitimasi Global yang Tak Terbantahkan

Mengakhiri seri panjang ini, kita harus bersandar pada kenyataan objektif yang sering kali diabaikan oleh para penghobi takfiri: pengakuan dunia Islam internasional. Pada tahun 2004, di bawah naungan Raja Abdullah II dari Yordania, lahirlah sebuah dokumen monumental yang dikenal sebagai Risalah Amman (Amman Message). Dokumen ini bukan sekadar kertas diplomatik, melainkan konsensus ulama sedunia mengenai siapa itu Muslim. [1]

OLEH: D.I. CHRISTIAN Penutup: Menjawab Fitnah & Narasi Persatuan A. Risalah Amman: Legitimasi Global yang Tak Terbantahkan Mengakhiri seri panjang ini, kita harus bersandar pada kenyataan objektif yang sering kali diabaikan oleh para penghobi takfiri: pengakuan dunia Islam internasional. Pada tahun 2004, di bawah naungan Raja Abdullah II dari Yordania, lahirlah sebuah dokumen monumental yang dikenal sebagai Risalah Amman (Amman Message). Dokumen ini bukan sekadar kertas diplomatik, melainkan konsensus ulama sedunia mengenai siapa itu Muslim. [1]  Lebih dari 500 ulama terkemuka dari 84 negara—termasuk tokoh-tokoh besar dari Al-Azhar, Arab Saudi, hingga Indonesia—secara resmi mengakui keabsahan mazhab Syiah Jafari dan Zaidiyah sebagai bagian tak perpisahkan dari umat Islam. [2]  Dokumen ini secara tegas melarang praktik takfiri (mengafirkan sesama Muslim) yang selama ini menjadi komoditas politik kelompok garis keras. Bagi para pembenci yang masih berteriak "Syiah bukan Islam", mereka sebenarnya sedang berhadapan bukan hanya dengan orang Syiah, tapi dengan konsensus global ulama Islam Sunni yang jauh lebih kompeten daripada mereka. [3]  Fakta sejarah mencatat bahwa tokoh-tokoh seperti Syekh Muhammad Sayyid Tantawi (Imam Besar Al-Azhar) dan Syekh Yusuf al-Qaradawi memberikan tanda tangan mereka pada deklarasi ini. Ini membuktikan bahwa di level intelektual tertinggi, persatuan adalah prioritas, sementara perpecahan hanyalah residu dari ketidaktahuan. [4]  Risalah Amman adalah benteng bagi moderasi. Ia menjelaskan bahwa keberagaman mazhab adalah kekayaan rahmatiah, bukan alasan untuk pertumpahan darah. Para pembenci Syiah yang menolak risalah ini biasanya tidak memiliki basis akademik yang kuat, melainkan hanya didorong oleh sentimen sektarian sempit yang dipolitisasi. [5] Pengakuan ini menutup celah bagi siapa pun untuk melakukan diskriminasi sistematis terhadap komunitas Syiah dalam ibadah haji, pendidikan, maupun hak sipil lainnya di dunia Muslim. [6]  Inilah paradoks terbesar: banyak orang awam di Indonesia lebih galak dalam mengafirkan Syiah dibandingkan para mufti besar di pusat peradaban Islam itu sendiri. Kebisingan ini adalah bukti nyata dari keberhasilan infiltrasi narasi pecah belah yang asing bagi tradisi keilmuan Nusantara. [7]  Melalui Risalah Amman, dunia Islam telah memilih jalan dialog. Syiah bukan lagi dipandang sebagai "liyan" yang mengancam, melainkan sebagai saudara dalam satu kiblat yang memiliki dialektika fikihnya sendiri.[8] Keberadaan deklarasi ini juga memaksa institusi pendidikan Islam untuk merevisi kurikulum yang masih memuat materi kebencian terhadap mazhab lain. Ini adalah langkah maju menuju peradaban Islam yang lebih dewasa dan inklusif.[9] Memahami Risalah Amman adalah syarat mutlak sebelum menghakimi. Tanpa pemahaman atas dokumen ini, argumen tentang Syiah hanyalah sekadar omong kosong tanpa landasan otoritas keagamaan. [10]  Fakta sejarah ini membuktikan bahwa persatuan bukanlah utopia, melainkan pilihan sadar yang telah diambil oleh para pemimpin tertinggi umat.[11] Risalah Amman sekaligus menjadi jawaban telak atas fitnah bahwa Syiah adalah agama baru di luar Islam. Jika 500 ulama Sunni saja tidak berani mengatakan demikian, atas dasar apa seorang komentator media sosial berani melakukannya? [12]  Kesepakatan ini juga mencakup pengakuan terhadap tasawuf yang benar, menunjukkan bahwa Islam adalah spektrum yang luas, bukan lorong sempit yang kaku.[13] Narasi persatuan ini adalah kunci bagi kebangkitan kembali kejayaan Islam yang selama ini hancur karena perang saudara yang tak kunjung usai. [14]  B. Memisahkan Ghulāt dari Doktrin Resmi Ulama Syiah Fitnah paling umum yang dialamatkan kepada Syiah sering kali bersumber dari perilaku kelompok ekstremis yang dikenal dalam tradisi Syiah sebagai Ghulāt (kelompok yang berlebihan). Penting bagi kita untuk memahami bahwa ulama besar Syiah secara konsisten mengutuk kelompok ini dari lingkup mazhab resmi. [15]  Menyimpulkan ajaran Syiah dari tindakan oknum di media sosial yang menghina Sahabat adalah sebuah kecacatan logika. Itu sama saja dengan menyimpulkan ajaran Sunni dari tindakan teroris ISIS. Keduanya adalah ekstremitas yang ditolak oleh tubuh besar mazhab masing-masing. [16]  Ayatullah Ali Khamenei dan Ayatullah Ali Sistani telah mengeluarkan fatwa yang sangat jelas mengharamkan penghinaan terhadap simbol-simbol suci umat Islam Sunni, termasuk kepada para Sahabat dan istri Nabi. Fatwa ini bukan sekadar taktik, melainkan landasan etika dalam bermazhab. [17]  Namun, para pembenci Syiah sengaja menutup mata dari fatwa-fatwa ini. Mereka lebih suka mengekspos saluran TV yang didanai asing (seperti saluran milik Yasir al-Habib di London) yang memang tujuannya memancing keributan sektarian. Inilah yang disebut sebagai "Syiah London" yang dikutuk oleh Teheran. [18]  Doktrin resmi Syiah (Itsna Asyariyah) sangat rigid dalam urusan tauhid. Tuduhan bahwa Syiah menyembah Imam atau menganggap Ali sebagai Tuhan adalah kebohongan publik yang sangat kotor. Mempelajari kitab-kitab induk seperti Nahjul Balaghah akan memperlihatkan kemurnian tauhid tersebut. [19]  Perbedaan dalam penafsiran sejarah tentang suksesi kepemimpinan setelah Nabi tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengafirkan. Ini adalah ranah diskusi ilmiah, bukan ranah penghakiman iman. Ulama Syiah selalu membuka pintu dialog berbasis dalil. [20]  Kita perlu membedakan antara tradisi budaya populer di beberapa daerah dengan ajaran resmi mazhab. Mayoritas marja' Syiah modern telah mengharamkan praktik melukai diri karena dianggap mencitrakan buruk wajah Islam di mata dunia.[21] Intelektualitas Syiah mengajarkan kita untuk kritis terhadap sumber informasi. Jika informasi tentang Syiah hanya didapat dari situs-situs yang tujuannya memecah belah, maka kebenaran tidak akan pernah ditemukan. [22]  Pemisahan antara Ghulāt dan mazhab resmi ini adalah kunci untuk meruntuhkan tembok prasangka.[23] Persatuan Islam tidak berarti semua orang harus menjadi sama. Persatuan berarti kita sepakat untuk saling menghormati di tengah perbedaan fikih sembari membela kepentingan umat dari penindasan. [24]  Beberapa kelompok pembenci Syiah: mereka begitu sibuk mencari kesalahan kecil pada Syiah, sementara mereka buta terhadap kezaliman besar yang dilakukan oleh penjajah di depan mata. [25] Melalui pendidikan dan literasi yang benar, kita bisa menghapus residu kebencian ini.   Sebagai penutup, marilah kita kembali pada inti ajaran Islam: Rahmatan lil 'Alamin. Syiah adalah salah satu warna dalam keindahan pelangi Islam yang memberikan dimensi kedalaman spiritual dan sejarah heroik.   Kita tidak perlu saling setuju pada semua hal, tapi kita wajib saling menjaga kehormatan sebagai sesama pengucap syahadat. Itulah harga mati bagi peradaban kita. Perjalanan sejarah Syiah adalah pelajaran tentang kesabaran, intelektualitas, dan perlawanan. Semoga seri ini menjadi pembuka pintu hikmah bagi kita semua.  Selesai.  ← KEMBALI KE CHAPTER 5 REFERENSI: [1] The Amman Message. Official Website: ammanmessage.com, Jordan, 2004. [2] Royal Aal al-Bayt Institute. The Amman Message: Full Consensus Report. [3] Al-Azhar University. Shaltut Fatwa on the Ja'fari Madhhab. Cairo, 1959. [4] Tantawi, M. Sayyid. Al-Taqrib bayna al-Madzahib al-Islamiyyah. Al-Azhar, 2005. [5] Qaradawi, Yusuf. Principles of Islamic Unity. Doha, 2004. [6] Organization of Islamic Cooperation (OIC). Resolutions on Sectarian Harmony. [7] Woodward, Mark. Java, Indonesia and Islam. Springer, 2011. [8] Jafri, S.H.M. The Origins and Early Development of Shi'a Islam. Oxford. [9] International Institute of Islamic Thought (IIIT). Educational Reform in Muslim World. [10] Nasr, S.H. The Heart of Islam. HarperCollins, 2002. [11] Risalah Amman Consensus Documents, Annex 1-3. [12] Shaltut, Mahmoud. Fatawa al-Imam al-Akbar. Cairo. [13] Chittick, William C. Sufism: A Beginner's Guide. Oxford, 2000. [14] Enayat, Hamid. Modern Islamic Political Thought. Texas, 1982. [15] Al-Modarresi, M.T. Extremism and the Marja'iyyah. Karbala. [16] Momen, Moojan. An Introduction to Shi'i Islam. Yale, 1985. [17] Khamenei, Ali. Fatwa No. 10/2010 (Prohibiting Insults to Companions). [18] Sistani, Ali. Official Proclamation on Sunni-Shia Brotherhood. Najaf. [19] Sharif al-Radi. Nahjul Balaghah. (The Peak of Eloquence). [20] Tabataba'i, S.M.H. Shi'ite Islam. SUNY Press, 1975. [21] Al-Khu'i, Abu al-Qasim. Legal Verdicts on Ritual Self-Harm. [22] Esposito, John L. What Everyone Needs to Know About Islam. Oxford. [23] Halm, Heinz. Shi'ism. Edinburgh University Press, 2004. [24] Risalah Amman. Third Point: On Takfir. [25] Shariati, Ali. Man and Islam. Free Islamic Lit.

Lebih dari 500 ulama terkemuka dari 84 negara—termasuk tokoh-tokoh besar dari Al-Azhar, Arab Saudi, hingga Indonesia—secara resmi mengakui keabsahan mazhab Syiah Jafari dan Zaidiyah sebagai bagian tak perpisahkan dari umat Islam. [2]

Dokumen ini secara tegas melarang praktik takfiri (mengafirkan sesama Muslim) yang selama ini menjadi komoditas politik kelompok garis keras. Bagi para pembenci yang masih berteriak "Syiah bukan Islam", mereka sebenarnya sedang berhadapan bukan hanya dengan orang Syiah, tapi dengan konsensus global ulama Islam Sunni yang jauh lebih kompeten daripada mereka. [3]

Fakta sejarah mencatat bahwa tokoh-tokoh seperti Syekh Muhammad Sayyid Tantawi (Imam Besar Al-Azhar) dan Syekh Yusuf al-Qaradawi memberikan tanda tangan mereka pada deklarasi ini. Ini membuktikan bahwa di level intelektual tertinggi, persatuan adalah prioritas, sementara perpecahan hanyalah residu dari ketidaktahuan. [4]

Risalah Amman adalah benteng bagi moderasi. Ia menjelaskan bahwa keberagaman mazhab adalah kekayaan rahmatiah, bukan alasan untuk pertumpahan darah. Para pembenci Syiah yang menolak risalah ini biasanya tidak memiliki basis akademik yang kuat, melainkan hanya didorong oleh sentimen sektarian sempit yang dipolitisasi. [5] Pengakuan ini menutup celah bagi siapa pun untuk melakukan diskriminasi sistematis terhadap komunitas Syiah dalam ibadah haji, pendidikan, maupun hak sipil lainnya di dunia Muslim. [6]

Inilah paradoks terbesar: banyak orang awam di Indonesia lebih galak dalam mengafirkan Syiah dibandingkan para mufti besar di pusat peradaban Islam itu sendiri. Kebisingan ini adalah bukti nyata dari keberhasilan infiltrasi narasi pecah belah yang asing bagi tradisi keilmuan Nusantara. [7]

Melalui Risalah Amman, dunia Islam telah memilih jalan dialog. Syiah bukan lagi dipandang sebagai "liyan" yang mengancam, melainkan sebagai saudara dalam satu kiblat yang memiliki dialektika fikihnya sendiri.[8] Keberadaan deklarasi ini juga memaksa institusi pendidikan Islam untuk merevisi kurikulum yang masih memuat materi kebencian terhadap mazhab lain. Ini adalah langkah maju menuju peradaban Islam yang lebih dewasa dan inklusif.[9] Memahami Risalah Amman adalah syarat mutlak sebelum menghakimi. Tanpa pemahaman atas dokumen ini, argumen tentang Syiah hanyalah sekadar omong kosong tanpa landasan otoritas keagamaan. [10]

Fakta sejarah ini membuktikan bahwa persatuan bukanlah utopia, melainkan pilihan sadar yang telah diambil oleh para pemimpin tertinggi umat.[11] Risalah Amman sekaligus menjadi jawaban telak atas fitnah bahwa Syiah adalah agama baru di luar Islam. Jika 500 ulama Sunni saja tidak berani mengatakan demikian, atas dasar apa seorang komentator media sosial berani melakukannya? [12]

Kesepakatan ini juga mencakup pengakuan terhadap tasawuf yang benar, menunjukkan bahwa Islam adalah spektrum yang luas, bukan lorong sempit yang kaku.[13] Narasi persatuan ini adalah kunci bagi kebangkitan kembali kejayaan Islam yang selama ini hancur karena perang saudara yang tak kunjung usai. [14]

B. Memisahkan Ghulāt dari Doktrin Resmi Ulama Syiah

Fitnah paling umum yang dialamatkan kepada Syiah sering kali bersumber dari perilaku kelompok ekstremis yang dikenal dalam tradisi Syiah sebagai Ghulāt (kelompok yang berlebihan). Penting bagi kita untuk memahami bahwa ulama besar Syiah secara konsisten mengutuk kelompok ini dari lingkup mazhab resmi. [15]

Menyimpulkan ajaran Syiah dari tindakan oknum di media sosial yang menghina Sahabat adalah sebuah kecacatan logika. Itu sama saja dengan menyimpulkan ajaran Sunni dari tindakan teroris ISIS. Keduanya adalah ekstremitas yang ditolak oleh tubuh besar mazhab masing-masing. [16]

Ayatullah Ali Khamenei dan Ayatullah Ali Sistani telah mengeluarkan fatwa yang sangat jelas mengharamkan penghinaan terhadap simbol-simbol suci umat Islam Sunni, termasuk kepada para Sahabat dan istri Nabi. Fatwa ini bukan sekadar taktik, melainkan landasan etika dalam bermazhab. [17]

Namun, para pembenci Syiah sengaja menutup mata dari fatwa-fatwa ini. Mereka lebih suka mengekspos saluran TV yang didanai asing (seperti saluran milik Yasir al-Habib di London) yang memang tujuannya memancing keributan sektarian. Inilah yang disebut sebagai "Syiah London" yang dikutuk oleh Teheran. [18]

Doktrin resmi Syiah (Itsna Asyariyah) sangat rigid dalam urusan tauhid. Tuduhan bahwa Syiah menyembah Imam atau menganggap Ali sebagai Tuhan adalah kebohongan publik yang sangat kotor. Mempelajari kitab-kitab induk seperti Nahjul Balaghah akan memperlihatkan kemurnian tauhid tersebut. [19]

Perbedaan dalam penafsiran sejarah tentang suksesi kepemimpinan setelah Nabi tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengafirkan. Ini adalah ranah diskusi ilmiah, bukan ranah penghakiman iman. Ulama Syiah selalu membuka pintu dialog berbasis dalil. [20]

Kita perlu membedakan antara tradisi budaya populer di beberapa daerah dengan ajaran resmi mazhab. Mayoritas marja' Syiah modern telah mengharamkan praktik melukai diri karena dianggap mencitrakan buruk wajah Islam di mata dunia.[21] Intelektualitas Syiah mengajarkan kita untuk kritis terhadap sumber informasi. Jika informasi tentang Syiah hanya didapat dari situs-situs yang tujuannya memecah belah, maka kebenaran tidak akan pernah ditemukan. [22]

Pemisahan antara Ghulāt dan mazhab resmi ini adalah kunci untuk meruntuhkan tembok prasangka.[23] Persatuan Islam tidak berarti semua orang harus menjadi sama. Persatuan berarti kita sepakat untuk saling menghormati di tengah perbedaan fikih sembari membela kepentingan umat dari penindasan. [24]

Beberapa kelompok pembenci Syiah: mereka begitu sibuk mencari kesalahan kecil pada Syiah, sementara mereka buta terhadap kezaliman besar yang dilakukan oleh penjajah di depan mata. [25] Melalui pendidikan dan literasi yang benar, kita bisa menghapus residu kebencian ini. 

Sebagai penutup, marilah kita kembali pada inti ajaran Islam: Rahmatan lil 'Alamin. Syiah adalah salah satu warna dalam keindahan pelangi Islam yang memberikan dimensi kedalaman spiritual dan sejarah heroik. 

Kita tidak perlu saling setuju pada semua hal, tapi kita wajib saling menjaga kehormatan sebagai sesama pengucap syahadat. Itulah harga mati bagi peradaban kita. Perjalanan sejarah Syiah adalah pelajaran tentang kesabaran, intelektualitas, dan perlawanan. Semoga seri ini menjadi pembuka pintu hikmah bagi kita semua.

Selesai.

Referensi:

  • [1] The Amman Message. Official Website: ammanmessage.com, Jordan, 2004.
  • [2] Royal Aal al-Bayt Institute. The Amman Message: Full Consensus Report.
  • [3] Al-Azhar University. Shaltut Fatwa on the Ja'fari Madhhab. Cairo, 1959.
  • [4] Tantawi, M. Sayyid. Al-Taqrib bayna al-Madzahib al-Islamiyyah. Al-Azhar, 2005.
  • [5] Qaradawi, Yusuf. Principles of Islamic Unity. Doha, 2004.
  • [6] Organization of Islamic Cooperation (OIC). Resolutions on Sectarian Harmony.
  • [7] Woodward, Mark. Java, Indonesia and Islam. Springer, 2011.
  • [8] Jafri, S.H.M. The Origins and Early Development of Shi'a Islam. Oxford.
  • [9] International Institute of Islamic Thought (IIIT). Educational Reform in Muslim World.
  • [10] Nasr, S.H. The Heart of Islam. HarperCollins, 2002.
  • [11] Risalah Amman Consensus Documents, Annex 1-3.
  • [12] Shaltut, Mahmoud. Fatawa al-Imam al-Akbar. Cairo.
  • [13] Chittick, William C. Sufism: A Beginner's Guide. Oxford, 2000.
  • [14] Enayat, Hamid. Modern Islamic Political Thought. Texas, 1982.
  • [15] Al-Modarresi, M.T. Extremism and the Marja'iyyah. Karbala.
  • [16] Momen, Moojan. An Introduction to Shi'i Islam. Yale, 1985.
  • [17] Khamenei, Ali. Fatwa No. 10/2010 (Prohibiting Insults to Companions).
  • [18] Sistani, Ali. Official Proclamation on Sunni-Shia Brotherhood. Najaf.
  • [19] Sharif al-Radi. Nahjul Balaghah. (The Peak of Eloquence).
  • [20] Tabataba'i, S.M.H. Shi'ite Islam. SUNY Press, 1975.
  • [21] Al-Khu'i, Abu al-Qasim. Legal Verdicts on Ritual Self-Harm.
  • [22] Esposito, John L. What Everyone Needs to Know About Islam. Oxford.
  • [23] Halm, Heinz. Shi'ism. Edinburgh University Press, 2004.
  • [24] Risalah Amman. Third Point: On Takfir.
  • [25] Shariati, Ali. Man and Islam. Free Islamic Lit.

Subscribe untuk mendapatkan update terbaru dari kami:

0 Response to "Di Balik Label ‘Sesat’: Membaca Ulang Sejarah Mazhab Syiah (Chapter 6 - Final)"

Posting Komentar