Mengapa Kita Merasa Miskin di Era Digital? Nirvana di Layar Kaca, Neraka di Dunia Nyata: Seni Merasa Miskin dengan Estetika

Dunia sedang tidak baik-baik saja, atau mungkin, kitalah yang terlalu bersemangat menjadi tidak baik-baik saja. Di era di mana resolusi kamera lebih penting daripada kejernihan nurani, kita telah berhasil menciptakan sebuah peradaban unik: Peradaban yang merasa miskin bukan karena perut lapar, tapi karena "beranda" orang lain terlihat lebih kenyang. Mari kita bicara soal Dukha (penderitaan) modern yang dibungkus dengan filter aesthetic.
Oleh: D.I. Christian

Kenapa kita merasa miskin padahal cukup? Bedah tuntas 'Dukha' modern dan Samsara digital lewat perspektif Filsafat Timur. Sebuah tamparan realita untuk kita yang terjebak estetika palsu.

I. Dialektika Ego: Ketika "Maya" Menjadi "Nyata"

Dalam filsafat Hindu, ada konsep bernama Maya. Sederhananya, Maya adalah ilusi yang menutupi hakikat sejati dari realitas. Ribuan tahun lalu, orang harus bermeditasi berbulan-bulan untuk menyadari bahwa dunia ini ilusi. Hari ini? Kita cukup membuka Instagram selama lima menit untuk masuk ke dalam Maya yang paling mutakhir.

Bedanya, Maya zaman dulu bikin orang sadar, Maya zaman sekarang bikin orang gila.

Kita melihat foto seseorang sedang menyesap kopi di kafe mahal dengan latar belakang buku filsafat yang (mungkin) tidak pernah dibaca. Secara otomatis, sistem saraf kita mengirim sinyal: "Lihat, dia bahagia, dia intelek, dia kaya. Sedangkan kamu? Kamu cuma remahan rengginang yang sedang membaca tulisan ini sambil rebahan dengan kipas angin berisik."

Inilah satir terlucu abad ini: 
    Kita merasa miskin hanya karena gagal menyamai ilusi yang diciptakan orang lain. Kita menderita bukan karena kekurangan objek, tapi karena kelebihan subjek untuk dibandingkan. Dalam kacamata Timur, ini adalah bentuk penghinaan tertinggi terhadap diri sendiri. Kita menukar ketenangan batin (Shanti) dengan rasa dengki yang dipoles sedemikian rupa hingga terlihat seperti "motivasi".

II. Hukum Karma dan Algoritma: Siapa yang Menanam, Dia yang Posting

Ada aliran filsafat timur yang mengajarkan tentang Karma—bahwa setiap tindakan akan membuahkan hasil. Di dunia digital, hukum ini telah dimodifikasi menjadi Hukum Algoritma. Siapa yang rajin menanam "pencitraan", dia akan memanen "validasi".

Masalahnya, validasi adalah narkoba jenis baru. Kita memposting kemewahan (yang seringkali dipaksakan) untuk mendapatkan like, yang kemudian memberikan lonjakan dopamin sesaat. Namun, seperti kata pepatah Zen, 
Mengejar keinginan itu seperti meminum air asin; semakin diminum, semakin haus.
Kita terjebak dalam lingkaran setan. Kita merasa miskin, lalu kita bekerja keras (atau berutang) untuk membeli barang yang tidak kita butuhkan, demi memukau orang yang tidak kita sukai, agar kita tidak terlihat miskin. Ini adalah intrik ekonomi yang sangat jenius: Membuat orang tetap miskin dengan cara meyakinkan mereka bahwa mereka harus terlihat kaya.

Kita adalah generasi paling religius. Kita menyembah "Tuhan" berbentuk ikon hati berwarna merah dan bersujud pada "nabi" bernama Influencer. Bedanya, Nabi zaman dulu membawa kabar gembira, nabi zaman sekarang membawa kode referral dan pamer saldo rekening.

III. Sunyata: Kosong yang Salah Kaprah

Dalam ajaran Buddha, ada konsep Sunyata atau Kekosongan. Bahwa segala sesuatu itu kosong dari inti yang permanen. Masyarakat modern kita telah mempraktekkan Sunyata dengan sangat sangat baik—namun pada tempat yang salah.

Dompet kita? Kosong (Sunyata). Hati kita? Kosong (Sunyata). Otak kita? Apalagi.

Kita menciptakan kekosongan batin yang luar biasa besar, lalu mencoba mengisinya dengan benda-benda material. Padahal, filsafat Timur sudah memperingatkan: "Bukan dia yang memiliki sedikit yang miskin, tetapi dia yang selalu menginginkan lebih."

Kita merasa miskin karena kita menggunakan standar "Lebih" milik orang lain. Kita melihat seseorang traveling ke Jepang, lalu kita merasa hidup kita di Bekasi adalah sebuah kutukan dewa yang mengerikan. Padahal, secara objektif, kita punya atap, punya makanan, dan punya koneksi internet buat baca tulisan ini. Tapi di hadapan "Nirvana Layar Kaca", kecukupan adalah sebuah penghinaan.

IV. Estetika Penderitaan: Seni Meratapi Nasib dengan Filter

Kita bahkan sudah mengomersialkan penderitaan kita sendiri. Muncul istilah "Healing". Dulu, healing artinya menyembuhkan luka batin melalui keheningan. Sekarang, healing artinya jalan-jalan ke tempat fancy, foto, lalu posting dengan caption tentang betapa beratnya hidup, atau self reward.

Kita tidak benar-benar ingin sembuh. Kita hanya ingin penderitaan kita terlihat mewah. Kita ingin orang tahu bahwa kita sedang depresi, tapi depresinya harus di hotel bintang lima. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap filosofi Wabi-sabi di Jepang—seni menemukan keindahan dalam ketidaksempurnaan. Kita malah mencari kesempurnaan dalam kepalsuan.

V. Samsara Digital: Lingkaran Setan Scroll Tanpa Henti

Dalam tradisi Timur, kita mengenal Samsara—roda kematian dan kelahiran kembali yang tak berujung, di mana jiwa tersiksa karena ketidaktahuan (Avidya). Di abad ini, Samsara telah mengalami digitalisasi menjadi fitur Infinite Scroll.

Pernahkah kamu memperhatikan jarimu saat membuka media sosial? Ia bergerak secara mekanis, menyapu layar ke bawah, mencari "sesuatu" yang ia sendiri tidak tahu apa. Setiap kali satu postingan terlewati, satu bibit iri hati lahir. Satu foto liburan orang lain muncul, batin kita mati rasa. Lalu kita "lahir kembali" di postingan berikutnya dengan rasa penasaran yang sama. Begitu terus sampai baterai habis atau mata perih.

Inilah bentuk nyata dari penyiksaan batin yang disebut para resi kuno. Kita terjebak dalam siklus keinginan yang tidak pernah terpuaskan. Kita adalah tawanan yang memegang kunci selnya sendiri, tapi lebih memilih menggunakan kunci itu untuk membuka aplikasi demi melihat siapa lagi yang "lebih sukses" hari ini. Kita merasa miskin karena kita terus melahirkan standar hidup baru setiap 0,5 detik di ujung jempol kita.

VI. Ahimsa terhadap Diri Sendiri: Berhenti Menyiksa Batin

Ahimsa sering diartikan sebagai "tanpa kekerasan". Biasanya kita menerapkan ini dengan tidak memukul orang atau tidak membunuh hewan. Tapi, pernahkah kita berpikir untuk menerapkan Ahimsa pada batin kita sendiri?

Membandingkan kehidupan nyata kita yang penuh peluh, tagihan, dan piring kotor dengan foto "sempurna" orang lain yang sudah melewati proses kurasi ketat adalah sebuah bentuk kekerasan intelektual. Itu adalah tindakan aniaya terhadap diri sendiri. Kita secara sadar menusuk jantung kebahagiaan kita dengan belati bernama "Iri Hati", lalu mengeluh mengapa hidup ini begitu menyakitkan.
Kita mengaku cinta damai, tapi kita adalah tiran paling kejam bagi pikiran kita sendiri. Kita memaksa diri kita untuk berlari di lintasan balap yang garis finisnya terus dipindah oleh algoritma. Mengapa kita begitu tega menghukum diri sendiri hanya karena tidak bisa memiliki apa yang—sejujurnya—mungkin tidak kita butuhkan?

VII. Etika Wabi-Sabi dalam Kepalsuan High-Definition

Jepang punya filosofi Wabi-Sabi, sebuah apresiasi terhadap ketidaksempurnaan, ketidakteraturan, dan kefanaan. Sebuah cangkir yang retak justru dianggap indah karena ia punya "cerita".

Sekarang lihatlah kita. Kita takut pada kerutan di wajah, kita benci pada latar belakang rumah yang sederhana, dan kita malu pada kemiskinan yang sebenarnya manusiawi. Kita menutupi "retakan" hidup kita dengan filter kecantikan dan aplikasi pengedit foto. Kita menciptakan dunia yang begitu halus dan sempurna secara visual, namun keropos secara substansi.

Secara intrik, masyarakat kita sedang mengalami krisis otentisitas. Kita lebih memilih menjadi "salinan" yang sempurna daripada menjadi "asli" yang cacat. Kita merasa miskin jika tidak bisa menampilkan kesempurnaan tersebut. Padahal, dalam Wabi-Sabi, kemiskinan materiil yang dibalut dengan kekayaan jiwa justru adalah puncak dari estetika hidup. Tapi ya, sudahlah, estetika batin memang tidak bisa di-posting sebagai konten, jadi siapa yang peduli?

VIII. Kesimpulan: Menemukan Tao di Tengah Notifikasi

Lalu, bagaimana kita keluar dari neraka dunia nyata ini? Apakah kita harus membakar HP dan pergi ke hutan seperti petapa? Tentu tidak. Itu terlalu dramatis dan (lagi-lagi) cuma bakal berakhir jadi konten "Back to Nature".

Jalannya adalah melalui Tao—Jalan Tengah, Keselarasan. Kita harus menyadari bahwa apa yang kita lihat di layar hanyalah "puncak gunung es" dari penderitaan orang lain yang disembunyikan. Di balik foto liburan mewah, mungkin ada cicilan yang mencekik. Di balik senyum lebar di kamera, mungkin ada kesepian yang dalam.

Nirvana yang ditawarkan layar kaca adalah fatamorgana. Neraka di dunia nyata yang kita rasakan hanyalah akibat dari cara pandang kita yang keliru.

Tutup layar sejenak. Lihatlah ke sekeliling. Jika kamu masih bisa bernapas dengan lega, masih punya segelas air di meja, dan masih punya akal sehat untuk menertawakan kebodohan zaman ini, maka selamat: Kamu sebenarnya jauh lebih kaya daripada ribuan orang yang sedang memalsukan hidup demi mendapatkan tepuk tangan dari orang asing.

Subscribe untuk mendapatkan update terbaru dari kami:

0 Response to "Mengapa Kita Merasa Miskin di Era Digital? Nirvana di Layar Kaca, Neraka di Dunia Nyata: Seni Merasa Miskin dengan Estetika"

Posting Komentar