Ziarah Ke Kuburan Moral: Ketika Kebenaran Dikalahkan oleh ‘Engagement’
Di sebuah pemakaman yang nisan-nisannya tidak terbuat dari beton, melainkan dari piksel yang berkedip, kita berdiri hari ini. Selamat datang di "Kuburan Moral", sebuah tempat di mana kebenaran telah resmi dikubur hidup-hidup, sementara "Engagement" sedang berpesta pora di atas gundukan tanahnya. Jangan lupa nyalakan kamera depanmu, Jon; kabarnya ziarah ini akan mendapatkan banyak share jika kita berhasil menangis dengan estetis di depan kamera.
Oleh: D.I. Christian
I. Pemakaman Sang 'Logos' di Tangan Algoritma
Mari kita mulai dengan penghormatan terakhir kepada Logos. Dalam filsafat Yunani kuno, Herakleitos menyebut Logos sebagai prinsip kebenaran universal yang mengatur dunia. Aristoteles menggunakannya sebagai pilar logika dalam retorika. Tapi hari ini, Logos sudah dianggap barang rongsokan.
Logika kalah telak oleh "perasaan netizen". Kita tidak lagi bertanya, "Apakah pernyataan ini benar secara faktual?" melainkan, "Seberapa banyak orang yang akan marah atau senang kalau aku membagikan ini?"
Kita telah menciptakan sebuah teokrasi baru. Tuhannya bernama Algoritma, dan kitab sucinya adalah "Trending Topic". Jika Logos menuntut kita untuk berpikir jernih dan panjang, Algoritma menuntut kita untuk bereaksi dalam 0,5 detik. Kebenaran yang butuh penjelasan panjang akan selalu kalah dengan kebohongan yang bisa diringkas dalam caption 10 kata yang memancing amarah.
Kebenaran itu membosankan. Kebenaran tidak memberikan lonjakan dopamin. Kebenaran tidak bisa di-remix dengan musik jedag-jedug. Maka, atas nama engagement, kita lebih memilih memoles kotoran hingga berkilau daripada menyajikan mutiara yang nampak berdebu.
II. Imperatif Kategoris yang Menjadi Imperatif Konten
Immanuel Kant pernah memberikan sebuah rumus moral yang agung: Imperatif Kategoris. Intinya, bertindaklah seolah-olah prinsip tindakanmu itu bisa dijadikan hukum universal.
Namun, di era digital, prinsip Kant ini sudah bermutasi menjadi Imperatif Konten:
Bertindaklah seolah-olah apa pun yang kamu lakukan bisa menjadi konten viral, tak peduli seberapa rendah moralitasnya.
Kita melihat orang kecelakaan, hal pertama yang dilakukan bukan menolong, tapi memastikan sudut pengambilan gambar (angle) sudah pas agar dramanya dapet. Kita memberi sedekah pada pengemis, tapi tangan kanan memberi, tangan kiri memegang gimbal stabilizer. Kita bisa bilang bahwa kebaikan tidak lagi dianggap terjadi jika tidak terekam dalam format 4K.
Ini adalah bentuk penghinaan terhadap martabat manusia. Kita tidak lagi melihat sesama sebagai subjek, melainkan sebagai "properti" atau "objek" pendukung untuk menaikkan grafik statistik profil kita. Kant pasti sedang menangis di alam sana melihat moralitas disempitkan menjadi sekadar angka insight mingguan.
III. Teori Simulakra: Ketika Kebohongan Menjadi Lebih Nyata dari Fakta
Jean Baudrillard, seorang filsuf Prancis, pernah bicara soal Simulakra—sebuah kondisi di mana salinan atau representasi dari sesuatu menjadi lebih nyata daripada aslinya (hiperrealitas).
Di "Kuburan Moral" ini, fakta hanyalah bahan mentah yang boleh dipotong, diedit, dan diberi filter sesuai kebutuhan narasi. Jika sebuah fakta tidak mendukung engagement, maka fakta tersebut harus "dieliminasi".
Kita hidup di dunia di mana "Drama Settingan" lebih dipercaya daripada realita. Mengapa? Karena drama sudah didesain untuk memuaskan hasrat emosional kita. Kita lebih suka menonton pertengkaran palsu yang seru daripada kesepakatan damai yang sunyi. Kebenaran telah kalah oleh hiburan. Kita telah mencapai puncak peradaban di mana kita lebih takut kehilangan koneksi internet daripada kehilangan integritas diri.
IV. Karma Digital dan Matinya Atman demi Angka
Kembali ke Timur, kita bertemu dengan konsep Atman (Jiwa) dan Satya (Kebenaran). Dalam ajaran kuno, mengkhianati kebenaran adalah cara tercepat untuk mengotori Atman. Namun, manusia modern tampaknya sudah tidak peduli pada noda di jiwanya, asalkan tidak ada noda di reputasi digitalnya.
Kita sedang melakukan transaksi paling merugi dalam sejarah kemanusiaan:
Menjual keabadian jiwa demi popularitas yang masanya lebih pendek daripada umur susu kotak. Kita melakukan "korupsi moral" setiap kali kita ikut menghujat seseorang yang belum tentu salah, hanya karena arus engagement bergerak ke arah sana.
Hukum Karma digital itu nyata, setiap jempol yang mengetik fitnah, setiap tangan yang membagikan hoaks demi trafik, sedang menenun jaring kesengsaraan bagi dirinya sendiri. Tapi ya, atas nama profesionalisme konten, siapa yang peduli pada karma jika bulan depan endorsement tetap masuk?
V. Nihilisme Ceria: Tertawa di Atas Reruntuhan Etika
Friedrich Nietzsche pernah meramalkan datangnya Nihilisme—situasi di mana nilai-nilai tertinggi kehilangan maknanya. Namun, dia mungkin tidak menyangka bahwa nihilisme kita akan seceria ini. Kita merayakan matinya moral dengan meme dan stiker WhatsApp yang lucu.
Kita menertawakan penderitaan orang lain melalui video "fail" yang diberi musik komedi. Kita menganggap pelecehan sebagai "prank". Kita adalah penonton di Colosseum modern, bedanya kita tidak butuh gladiator beneran, kita cuma butuh karakter orang yang bisa kita cancel secara massal agar kita merasa diri kita lebih suci.
Dengan menjatuhkan moral orang lain di internet, kita merasa beban dosa kita berkurang. Padahal, kita cuma sedang menumpuk bangkai di dalam hati yang semakin hampa.
VI. Ekonomi Amarah: Mengapa Kebencian Adalah Mata Uang Paling Stabil?
Dalam dunia ekonomi klasik, kita mengenal kelangkaan sebagai penentu harga. Namun, di "Kuburan Moral", hukum itu terbalik. Hal yang paling melimpah—yakni Amarah—justru menjadi mata uang yang paling stabil nilainya.
Bayangkan sebuah kasus yang sering viral belakangan ini: Seseorang melakukan kesalahan kecil atau bahkan sekadar salah ucap, lalu dalam hitungan jam, jutaan orang berkumpul di kolom komentar untuk meludahinya. Ini adalah "gotong royong" versi digital yang sangat efisien. Platform media sosial tidak peduli apakah amarah itu benar atau salah; yang mereka peduli hanyalah durasi tonton dan jumlah klik.
Algoritma didesain untuk menjadi 'provokator'. Ia tahu bahwa jika kamu melihat sesuatu yang menenangkan seperti video kucing, kamu mungkin hanya menonton 10 detik. Tapi jika kamu melihat video seseorang yang menghina keyakinanmu atau gaya hidupmu, kamu akan bertahan di sana selama 30 menit untuk mengetik makian.
Kebenaran? Ia cuma penonton pinggiran yang bingung. Di ekonomi amarah, kebenaran adalah hambatan bagi pertumbuhan ekonomi. Semakin banyak orang berdebat dan saling serang karena hoaks, semakin kaya pemilik platform. Kita semua adalah buruh tambang amarah yang bekerja sukarela 24 jam sehari hanya demi mempertebal kantong korporasi Silicon Valley. Dermawan sekali ya kita, menyumbangkan kewarasan demi kekayaan orang lain?
VII. Dialektika Tuan dan Budak: Siapa yang Sebenarnya Memegang Kendali?
Mari kita bedah pakai pemikiran Hegel tentang Master-Slave Dialectic. Hegel berargumen bahwa identitas seseorang seringkali terbentuk dari pengakuan orang lain. Sang "Tuan" merasa menjadi tuan hanya karena diakui oleh sang "Budak".
Di era engagement, kita melihat fenomena ini terjadi secara masif. Kamu mungkin merasa sebagai "Tuan" atas akunmu sendiri. Kamu bebas memposting apa saja. Namun, secara sadar atau tidak, kamu telah menjadi "Budak" dari pengikutmu.
Contoh kasus viral: Seorang influencer yang biasanya menampilkan gaya hidup idealis, tiba-tiba "dihukum" oleh pengikutnya saat ia melakukan sesuatu yang jujur tapi tidak sesuai standar estetika mereka. Ia harus meminta maaf karena menjadi dirinya sendiri. Kita mengejar kebebasan di internet, tapi malah berakhir menjadi tawanan ekspektasi massa.
Kebenaran batin kita dikalahkan oleh keinginan untuk tetap relevan. Kita takut "dibatalkan" (cancelled) lebih daripada kita takut kehilangan kejujuran. Kita telah menciptakan monster kolektif yang menuntut kita untuk selalu tampil sempurna, meskipun itu artinya kita harus terus-menerus membohongi Atman kita sendiri.
VIII. Penutup: Menanam Bunga di Atas Kuburan
Ziarah kita hampir selesai. Kita sudah melihat bagaimana moralitas telah dipeti-es-kan dan diganti dengan statistik. Kita melihat bagaimana kejujuran telah dianggap sebagai barang purbakala yang tidak laku dijual di pasar digital.
Lalu, apakah kita harus menyerah?
Filsafat Timur mengajarkan kita tentang Dharma—kewajiban moral yang dilakukan tanpa mengharap hasil. Dan filsafat Barat melalui para Stoik mengajarkan kita untuk fokus pada apa yang bisa kita kendalikan, yakni integritas diri.
Menulis, adalah salah satu cara kita menanam bunga di atas kuburan moral tersebut. Kita mungkin tidak akan viral. Kita mungkin tidak akan mendapatkan jutaan engagement karena tulisan ini terlalu panjang untuk dibaca oleh generasi "TL;DR" (Too Long; Didn't Read). Tapi, setidaknya kita tidak ikut serta dalam pesta pora di atas mayat kebenaran.
Jika dunia lebih suka menyembah angka, biarlah kita menjadi kaum minoritas yang masih percaya pada kata-kata. Kebenaran mungkin sedang mati di layar kaca, tapi ia harus tetap hidup di dalam kepala kita—setidaknya sampai baterai perangkat ini habis.

0 Response to "Ziarah Ke Kuburan Moral: Ketika Kebenaran Dikalahkan oleh ‘Engagement’"
Posting Komentar