Di Balik Label ‘Sesat’: Membaca Ulang Sejarah Mazhab Syiah (Chapter 4)

Tuduhan ketiga yang paling absurd: Al-Qur'an Syi'ah berbeda. Jika Syiah punya Al-Qur'an yang berbeda, seharusnya setelah 1.400 tahun, "kitab rahasia" itu sudah ditemukan dalam penggalian arkeologis. Faktanya, Al-Qur'an di seluruh dunia Syiah sama persis dengan yang ada di Mekkah atau Jakarta.
Oleh: D.I. Christian

Fase Divergensi: Mengapa Syiah Terpecah?

A. Menjawab Distorsi: Anatomi Fitnah dan Fakta Akademis

Menyebut Syiah sebagai kelompok monolitik yang seragam adalah bentuk kemalasan berpikir. Lebih parah lagi, membangun narasi kebencian berdasarkan potongan-potongan info yang didekontekstualisasi adalah hobi favorit mereka yang alergi terhadap riset primer. Mari kita bedah satu per satu tuduhan "ngarang" yang sering dilemparkan untuk mendelegitimasi mazhab ini. [1]

OLEH: D.I. CHRISTIAN Fase Divergensi: Mengapa Syiah Terpecah? A. Menjawab Distorsi: Anatomi Fitnah dan Fakta Akademis Menyebut Syiah sebagai kelompok monolitik yang seragam adalah bentuk kemalasan berpikir yang akut. Lebih parah lagi, membangun narasi kebencian berdasarkan potongan-potongan info yang didekontekstualisasi adalah hobi favorit mereka yang alergi terhadap riset primer. Mari kita bedah satu per satu tuduhan "standar" yang sering dilemparkan untuk mendelegitimasi mazhab ini. [1]  Tuduhan pertama: Mengkafirkan Sahabat Nabi. Narasi ini sering digeneralisasi seolah-olah seluruh penganut Syiah mengutuk semua sahabat. Secara akademis, Syiah melakukan naqd (kritik) sejarah terhadap peran politik beberapa sahabat pasca-wafatnya Nabi. Kritik sejarah bukanlah pengkafiran massal. Banyak sahabat besar justru menjadi pilar utama Syiah, seperti Ammar bin Yasir dan Abu Dzarr al-Ghifari. [2]  Tuduhan kedua: Mencela Istri Nabi (Aisyah). Ini adalah amunisi emosional yang sering digoreng. Padahal, ulama-ulama besar Syiah kontemporer, termasuk Ayatullah Ali Khamenei, telah mengeluarkan fatwa tegas yang mengharamkan penghinaan terhadap simbol-simbol suci saudara-saudara Sunni, termasuk istri-istri Nabi. Menghargai posisi Aisyah sebagai Ummul Mu'minin adalah bagian dari adab mazhab. [3]  Tuduhan ketiga yang paling absurd: Al-Qur'an Tidak Asli (Tahrif). Jika Syiah punya Al-Qur'an yang berbeda, seharusnya setelah 1400 tahun, "kitab rahasia" itu sudah ditemukan dalam penggalian arkeologis. Faktanya, Al-Qur'an di seluruh dunia Syiah sama persis dengan yang ada di Mekkah atau Jakarta. Klaim tahrif hanyalah residu debat teologis klasik yang sengaja dihidupkan kembali. [4]  Tuduhan keempat: Taqiyyah dianggap sebagai "Izin Berbohong". Ini adalah simplifikasi yang konyol. Taqiyyah secara harfiah berarti "menjaga diri". Secara hukum Islam, ini adalah prinsip perlindungan diri saat nyawa terancam—prinsip yang juga diakui dalam fikih Sunni dalam kondisi darurat (dharurat). Menganggap penganut Syiah selalu berbohong lewat Taqiyyah adalah bentuk paranoia kebodohan. [5]  Tuduhan kelima: Nikah Mut’ah sebagai Perzinahan Terselubung. Pembenci Syiah sering lupa bahwa Nikah Mut’ah pernah dihalalkan di zaman Nabi. Perbedaan terletak pada apakah hukum itu dihapus (naskh) atau tidak. Bagi Syiah, larangan Mut’ah datang dari ijtihad politik Umar bin Khattab, bukan dari Nabi. Memperdebatkan status hukum sebuah praktik yang punya akar sejarah bukanlah alasan untuk menuduh perzinahan. [6]  Penting untuk dicatat bahwa ulama-ulama Syiah yang berintegritas tetap memberikan batasan ketat. Mut’ah bukanlah "seks bebas Islami". Ada mahar, ada kesepakatan waktu, dan yang paling krusial: ada masa Iddah (masa tunggu bagi perempuan sebelum boleh menikah lagi) serta pengakuan anak. Jika masa Iddah ini dilanggar demi bisa berganti-ganti pasangan dengan cepat, maka secara otomatis itu jatuh ke kategori zina, bahkan dalam hukum Syiah sekalipun.  Bagi kelompok tertentu, penyimpangan praktik terhadap Nikah Mut’ah (yang tentu saja terjadi juga pada model pernikahan lainnya yang umum dalam masyarakat) inilah yang dijadikan senjata utama. Mereka tidak menyerang argumen hukumnya (karena secara historis memang pernah dihalalkan Nabi), tapi mereka menyerang "wajah buruk" praktiknya.   "Jangan salahkan kompasnya kalau penggunanya sengaja berjalan ke arah jurang."  Tuduhan keenam: Menyembah/Mengkultuskan Ali. Mengatakan Syiah menyembah Ali adalah fitnah usang yang selalu direproduksi. Kalimat Syahadat Syiah tetap menegaskan La ilaha illallah. Ali dihormati sebagai Waliyyullah dan Imam, bukan Tuhan. Menghormati manusia suci setinggi apa pun tidak pernah sama dengan menuhankannya dalam ontologi Syiah. [7]  Mengapa tuduhan-tuduhan ini terus laku? Karena kebencian membutuhkan bahan bakar. Tanpa musuh yang dicitrakan sebagai "setan", banyak kelompok sektarian akan kehilangan alasan eksistensinya. Mengkaji aliran-aliran Syiah secara objektif akan menunjukkan dinamika intelektual yang hidup. [8]  Keberagaman dalam Syiah muncul karena perbedaan interpretasi terhadap garis keturunan Imam pasca-Imam tertentu. Ini adalah dialektika internal yang lumrah. Tidak ada satu pun dari aliran utama Syiah yang keluar dari koridor rukun iman yang fundamental. [9]  Kelompok yang mencoba menyeragamkan Syiah sebagai "musuh Islam" melakukan pengkhianatan terhadap sejarah intelektual. Mereka menutup mata terhadap kontribusi besar ulama-ulama Syiah dalam bidang sains hingga filsafat yang membentuk peradaban Islam di masa keemasan. [10]  Kritik terhadap sahabat yang dilakukan Syiah sering disalahpahami sebagai kebencian personal. Padahal, secara metodologis, Syiah hanya menerapkan standar yang ketat dalam menilai integritas periwayat hadis berdasarkan tindakan politik mereka. [11]  Mengenai penghormatan berlebih pada Imam, kita harus melihatnya dalam konteks Wilayah. Bagi Syiah, Imam adalah cermin kesempurnaan manusia. Menghormati cermin berarti menghormati sumber cahaya yang dipantulkannya, yaitu Tuhan. [12]  Isu Al-Qur'an sering kali dipicu oleh adanya riwayat-riwayat ahad (lemah) dalam kitab klasik. Namun, ulama Syiah telah melakukan verifikasi bahwa riwayat tersebut tertolak jika bertentangan dengan Al-Qur'an yang ada. Ini mekanisme sensor internal yang ilmiah. [13]  Taqiyyah lahir dari kebutuhan bertahan hidup di bawah rezim Umayyah dan Abbasiyah yang represif. Tanpa Taqiyyah, mazhab ini mungkin sudah musnah dibantai secara genosidal. Menuduh korban penindasan berbohong karena ingin selamat adalah ketidakadilan moral. [14]  Dalam hal Nikah Mut'ah, banyak yang tidak tahu bahwa syarat-syaratnya tetap ketat, termasuk mahar dan masa iddah. Ini bukan praktik hura-hura seksual, melainkan solusi hukum untuk kondisi tertentu yang diakui sejarah. [15]  Penghormatan kepada Ali melalui ziarah makam sering dituduh syirik. Padahal, niat para peziarah adalah tawasul. Logika ini sama dengan meminta didoakan oleh ulama yang masih hidup untuk memohon syafaat. [16]  Memahami Syiah melalui aliran-alirannya adalah kunci untuk melihat betapa luasnya spektrum pemikiran mereka. Setiap aliran punya logika sosiopolitiknya sendiri yang masuk akal jika dipelajari dengan kepala dingin. [17] Para pembenci Syiah sering terjebak dalam "Cherry Picking"—mengambil pendapat individu pinggiran lalu mengklaimnya sebagai doktrin resmi. Ini adalah kecacatan logika yang memprihatinkan. [18]  Penting bagi pembaca menyadari bahwa perbedaan mazhab adalah kekayaan intelektual. Islam terlalu besar jika dibatasi oleh satu sudut pandang kaku. [19]  Ketidaktahuan melahirkan ketakutan, dan ketakutan melahirkan kebencian. Dengan membedah aliran-aliran di bawah ini, kita sedang melakukan "vaksinasi intelektual" terhadap virus sektarianisme. [20]  Faktanya, dalam Risalah Amman (2004) yang ditandatangani ratusan ulama dunia, Syiah secara resmi diakui sebagai bagian dari umat Islam yang sah dan haram darahnya. [21] Tetap memelihara narasi "Syiah sesat" pasca-Risalah Amman bukan hanya melawan data sejarah, tapi juga melawan konsensus ulama dunia. Ini adalah agenda politik murni. [22]  Sejarah pembentukan aliran-aliran ini menunjukkan bahwa mereka lahir dari perdebatan intelektual yang jujur mengenai bimbingan umat. Ini bukti hidupnya pemikiran Islam. [23]  Mari kita masuk ke rincian aliran-aliran tersebut untuk melihat betapa beragamnya "rumah besar" Syiah ini. [24]  1. Zaidiyah (Fivers): Aktivisme Politik Aliran Zaidiyah muncul sebagai pengikut Zaid bin Ali. Zaid dikenal sebagai tokoh yang mengangkat senjata melawan kezaliman Dinasti Umayyah di Kufah pada tahun 740 M. Bagi Zaidiyah, Imam harus berani memberontak terbuka terhadap penguasa zalim. [25]  Mengapa Zaidiyah disebut paling dekat dengan Sunni? Karena mereka tidak mensyaratkan Ishmah sempurna bagi Imam. Mereka juga menerima kepemimpinan Abu Bakar dan Umar dalam konsep al-Mafdhul. [26]  Logika pemberontakan Zaid bin Ali adalah "Aktivisme Politik". Zaidiyah menolak kepasifan. Hingga kini, penganut Zaidiyah mayoritas berada di Yaman dan secara fikih mirip mazhab Syafii. [27]  2. Ismailiyah (Seveners): Esoterisme dan Kejayaan Fatimiyah Aliran Ismailiyah pecah ketika terjadi perbedaan suksesi setelah Imam Jafar as-Sadiq. Mereka meyakini Imam ketujuh adalah Ismail bin Jafar. Ismailiyah menekankan aspek Batin dari Al-Qur'an. [28]  Kelompok ini melahirkan Dinasti Fatimiyah di Mesir. Di bawah Fatimiyah, Kairo dibangun dan Universitas Al-Azhar didirikan sebagai pusat keunggulan intelektual Syiah. [29]  Ismailiyah memadukan neoplatonisme dengan teologi Islam. Tokoh-tokoh seperti Ikhwan al-Shafa memberikan kontribusi luar biasa dalam ensiklopedia ilmu pengetahuan dunia. [30] Dalam Ismailiyah, Imam adalah penafsir tunggal kebenaran esoteris. Mereka membagi realitas menjadi Zahir (eksoteris) dan Batin (hakikat). [31]  Meskipun dituduh "kebatinan", Ismailiyah membuktikan diri mampu membangun peradaban toleran dan maju secara sains di masanya. [32] Aliran ini pecah lagi menjadi Nizaris (pengikut Aga Khan) dan Musta'lians. Nizaris dikenal sebagai komunitas Muslim modern yang sangat dermawan internasional. [33]  Kejayaan Fatimiyah menunjukkan Syiah mampu menjadi mazhab penguasa yang membawa kemajuan bagi seluruh rakyat, termasuk non-muslim. [34] Ismailiyah tetap menjadi salah satu aliran dengan kontribusi literatur filosofis terkaya dalam sejarah Islam. [35]  3. Itsna Asyariyah (Twelvers): Mayoritas Syiah Saat Ini Itsna Asyariyah meyakini urutan 12 Imam, dimulai dari Ali bin Abi Thalib dan berakhir pada Muhammad al-Mahdi. Aliran ini mengkristal setelah periode Ghaibah. [36]  Doktrin 12 Imam bukan sekadar silsilah, tapi pilar teologis. Imam ke-12 diyakini masuk masa keghaiban pada 874 M untuk menghindari kejaran penguasa Abbasiyah. [37] Konsep Ghaibah terbagi dua: Ghaibah Shughra dan Kubra. Selama masa ini, umat dipimpin fukaha berintegritas tinggi (Wilayatul Faqih). [38]  Penantian Imam Mahdi bagi Twelvers adalah penantian aktif. Umat harus mempersiapkan dunia dengan keadilan agar sang Imam pantas untuk kembali muncul. [39]  Itsna Asyariyah memiliki tradisi intelektual kuat dalam Ushul Fiqh. Mereka sangat menekankan peran akal ('Aql) dalam menggali hukum Islam. [40] Pusat studi di Najaf dan Qom hingga kini melahirkan ribuan karya ilmiah lintas disiplin, membuktikan ini adalah mazhab yang berpikir. [41]  Identitas Twelver kental dengan peringatan kesyahidan Imam, yang berfungsi sebagai pengingat perjuangan abadi melawan penindasan.[42] Secara geopolitik, Itsna Asyariyah menjadi kekuatan signifikan, namun secara spiritual tetap fokus pada penyucian jiwa melalui irfan. [43]  Keragaman Zaidiyah, Ismailiyah, dan Twelver bukti Syiah adalah ekosistem pemikiran luas. Barangsiapa menyempitkannya dalam stigma negatif menunjukkan kedangkalan ilmunya. [44]  Bersambung..  LANJUT KE CHAPTER 5 → ← KEMBALI KE CHAPTER 3 REFERENSI: [1] Momen, Moojan. An Introduction to Shi'i Islam. Yale, 1985, hlm. 61. [2] Kohlberg, Etan. Belief and Law in Imami Shi'ism. Variorum, 1991, hlm. 25. [3] Khamenei, Ali. Fatwa on Sunni Symbols. Tehran, 2010. [4] Al-Khu'i, Abu al-Qasim. Al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. [5] Enayat, Hamid. Modern Islamic Political Thought. Texas, 1982, hlm. 175. [6] Haeri, Shahla. Law of Desire. Syracuse, 1989. [7] Corbin, Henry. History of Islamic Philosophy, hlm. 35. [8] Daftary, Farhad. The Isma'ilis. Cambridge, 1990, hlm. 1. [9] Halm, Heinz. Shi'ism. Edinburgh, 2004, hlm. 20. [10] Nasr, S.H. Science and Civilization in Islam. Harvard, 1968. [11] Kohlberg, Etan. Op. Cit., hlm. 32. [12] Corbin, Henry. Op. Cit., hlm. 40. [13] Al-Khu'i. Op. Cit. (Membahas sensor riwayat lemah). [14] Enayat, Hamid. Op. Cit., hlm. 178. [15] Momen, Moojan. Op. Cit., hlm. 182. [16] Sachedina, Abdulaziz. Islamic Messianism, hlm. 15. [17] Jafri, S.H.M. The Origins..., hlm. 250. [18] Daftary, F. Op. Cit., hlm. 10. [19] Nasr, S.H. The Heart of Islam, hlm. 165. [20] Halm, Heinz. Op. Cit., hlm. 22. [21] Amman Message Project. ammanmessage.com. [22] Risalah Amman Consensus Report, 2004. [23] Corbin, Henry. En Islam Iranien, Vol 1. [24] Jafri, S.H.M. Op. Cit., hlm. 255. [25] Walker, Paul E. "Zaydiyya" dalam Oxford Encyclopedia. [26] Madelung, Wilferd. Der Imam al-Qasim..., Brill, 1965. [27] Madelung, W. "Zaydiyya" dalam EI2. [28] Daftary, F. A Short History of the Ismailis, hlm. 36. [29] Sanders, Paula. Ritual and Politics in Fatimid Cairo. [30] Daftary, F. Op. Cit., hlm. 45. [31] Ikhwan al-Shafa Encyclopedia Studies. [32] Corbin, H. Op. Cit. (Dimensi Batin Ismailiyah). [33] Lewis, Bernard. The Assassins. [34] Aga Khan Development Network Reports. [35] Fatimid Caliphate Archives. [36] Sachedina, A. Islamic Messianism, hlm. 42. [37] Arjomand, Said Amir. The Shadow of God. Chicago. [38] Momen, Moojan. Op. Cit., hlm. 147. [39] Kohlberg, E. Op. Cit. (Konsep Ghaibah). [40] Modarressi, Hossein. Crisis and Consolidation. [41] Najaf & Qom Seminary Studies. [42] Halm, Heinz. Op. Cit. (Ritual Twelver). [43] Nasr, S.H. Ideals and Realities. [44] Jafri, S.H.M. Op. Cit., hlm. 124.

Tuduhan pertama: Mengkafirkan Sahabat Nabi. Narasi ini sering digeneralisasi seolah-olah seluruh penganut Syiah mengutuk semua sahabat. Secara akademis, Syiah melakukan naqd (kritik) sejarah terhadap peran politik beberapa sahabat pasca-wafatnya Nabi. Kritik sejarah bukanlah pengkafiran massal. Banyak sahabat besar justru menjadi pilar utama Syiah, seperti Ammar bin Yasir dan Abu Dzarr al-Ghifari. [2]

Tuduhan kedua: Mencela Istri Nabi (Aisyah). Ini adalah amunisi emosional yang sering digoreng. Padahal, ulama-ulama besar Syiah kontemporer, termasuk Ayatullah Ali Khamenei, telah mengeluarkan fatwa tegas yang mengharamkan penghinaan terhadap simbol-simbol suci saudara-saudara Sunni, termasuk istri-istri Nabi. Menghargai posisi Aisyah sebagai Ummul Mu'minin adalah bagian dari adab mazhab. [3]

Tuduhan ketiga yang paling absurd: Al-Qur'an Tidak Asli (Tahrif). Jika Syiah punya Al-Qur'an yang berbeda, seharusnya setelah 1.400 tahun, "kitab rahasia" itu sudah ditemukan dalam penggalian arkeologis. Faktanya, Al-Qur'an di seluruh dunia Syiah sama persis dengan yang ada di Mekkah atau Jakarta. Klaim tahrif hanyalah residu debat teologis klasik yang sengaja dihidupkan kembali. [4]

Tuduhan keempat: Taqiyyah dianggap sebagai "Izin Berbohong". Ini adalah simplifikasi yang konyol. Taqiyyah secara harfiah berarti "menjaga diri". Secara hukum Islam, ini adalah prinsip perlindungan diri saat nyawa terancam—prinsip yang juga diakui dalam fikih Sunni dalam kondisi darurat (dharurat). Menganggap penganut Syiah selalu berbohong lewat Taqiyyah adalah bentuk paranoia dari kebodohan. [5]

Tuduhan kelima: Nikah Mut’ah sebagai Perzinahan Terselubung. Pembenci Syiah sering lupa bahwa Nikah Mut’ah pernah dihalalkan di zaman Nabi. Perbedaan terletak pada apakah hukum itu dihapus (naskh) atau tidak. Bagi Syiah, larangan Mut’ah datang dari ijtihad politik Umar bin Khattab, bukan dari Nabi. Memperdebatkan status hukum sebuah praktik yang punya akar sejarah bukanlah alasan untuk menuduh perzinahan. [6]

Penting untuk dicatat bahwa ulama-ulama Syiah yang berintegritas tetap memberikan batasan ketat. Mut’ah bukanlah "seks bebas Islami". Ada mahar, ada kesepakatan waktu, dan yang paling krusial: ada masa Iddah (masa tunggu bagi perempuan sebelum boleh menikah lagi) serta pengakuan anak. Jika masa Iddah ini dilanggar demi bisa berganti-ganti pasangan dengan cepat, maka secara otomatis itu jatuh ke kategori zina, bahkan dalam hukum Syiah sekalipun.

Bagi kelompok tertentu, penyimpangan praktik terhadap Nikah Mut’ah (yang tentu saja terjadi juga pada model pernikahan lainnya yang umum dalam masyarakat) inilah yang dijadikan senjata utama. Mereka tidak menyerang argumen hukumnya (karena secara historis memang pernah dihalalkan Nabi), tapi mereka menyerang "wajah buruk" praktiknya. 

"Jangan salahkan kompasnya kalau penggunanya sengaja berjalan ke arah jurang."

Tuduhan keenam: Menyembah/Mengkultuskan Ali. Mengatakan Syiah menyembah Ali adalah fitnah usang yang selalu direproduksi. Kalimat Syahadat Syiah tetap menegaskan La ilaha illallah. Ali dihormati sebagai Waliyyullah dan Imam, bukan Tuhan. Menghormati manusia suci setinggi apa pun tidak pernah sama dengan menuhankannya dalam ontologi Syiah. [7]

Mengapa tuduhan-tuduhan ini terus laku? Karena kebencian membutuhkan bahan bakar. Tanpa musuh yang dicitrakan sebagai "setan", banyak kelompok sektarian akan kehilangan alasan eksistensinya. Mengkaji aliran-aliran Syiah secara objektif akan menunjukkan dinamika intelektual yang hidup. [8]

Keberagaman dalam Syiah muncul karena perbedaan interpretasi terhadap garis keturunan Imam pasca-Imam tertentu. Ini adalah dialektika internal yang lumrah. Tidak ada satu pun dari aliran utama Syiah yang keluar dari koridor rukun iman yang fundamental. [9]

Kelompok yang mencoba menyeragamkan Syiah sebagai "musuh Islam" melakukan pengkhianatan terhadap sejarah intelektual. Mereka menutup mata terhadap kontribusi besar ulama-ulama Syiah dalam bidang sains hingga filsafat yang membentuk peradaban Islam di masa keemasan. [10]

Kritik terhadap sahabat yang dilakukan Syiah sering disalahpahami sebagai kebencian personal. Padahal, secara metodologis, Syiah hanya menerapkan standar yang ketat dalam menilai integritas periwayat hadis berdasarkan tindakan politik mereka. [11]

Mengenai penghormatan berlebih pada Imam, kita harus melihatnya dalam konteks Wilayah. Bagi Syiah, Imam adalah cermin kesempurnaan manusia. Menghormati cermin berarti menghormati sumber cahaya yang dipantulkannya, yaitu Tuhan. [12]

Isu Al-Qur'an sering kali dipicu oleh adanya riwayat-riwayat ahad (lemah) dalam kitab klasik. Namun, ulama Syiah telah melakukan verifikasi bahwa riwayat tersebut tertolak jika bertentangan dengan Al-Qur'an yang ada. Ini mekanisme sensor internal yang ilmiah. [13]

Taqiyyah lahir dari kebutuhan bertahan hidup di bawah rezim Umayyah dan Abbasiyah yang represif. Tanpa Taqiyyah, mazhab ini mungkin sudah musnah dibantai secara genosidal. Menuduh korban penindasan berbohong karena ingin selamat adalah ketidakadilan moral. [14]

Dalam hal Nikah Mut'ah, banyak yang tidak tahu bahwa syarat-syaratnya tetap ketat, termasuk mahar dan masa iddah. Ini bukan praktik hura-hura seksual, melainkan solusi hukum untuk kondisi tertentu yang diakui sejarah. [15]

Penghormatan kepada Ali melalui ziarah makam sering dituduh syirik. Padahal, niat para peziarah adalah tawasul. Logika ini sama dengan meminta didoakan oleh ulama yang masih hidup untuk memohon syafaat. [16]

Memahami Syiah melalui aliran-alirannya adalah kunci untuk melihat betapa luasnya spektrum pemikiran mereka. Setiap aliran punya logika sosiopolitiknya sendiri yang masuk akal jika dipelajari dengan kepala dingin. [17] Para pembenci Syiah sering terjebak dalam "Cherry Picking"—mengambil pendapat individu pinggiran lalu mengklaimnya sebagai doktrin resmi. Ini adalah kecacatan logika yang memprihatinkan. [18]

Penting bagi pembaca menyadari bahwa perbedaan mazhab adalah kekayaan intelektual. Islam terlalu besar jika dibatasi oleh satu sudut pandang kaku. [19]

Ketidaktahuan melahirkan ketakutan, dan ketakutan melahirkan kebencian. Dengan membedah aliran-aliran di bawah ini, kita sedang melakukan "vaksinasi intelektual" terhadap virus sektarianisme. [20]

Faktanya, dalam Risalah Amman (2004) yang ditandatangani ratusan ulama dunia, Syiah secara resmi diakui sebagai bagian dari umat Islam yang sah dan haram darahnya. [21] Tetap memelihara narasi "Syiah sesat" pasca-Risalah Amman bukan hanya melawan data sejarah, tapi juga melawan konsensus ulama dunia. Ini adalah agenda politik murni. [22]

Sejarah pembentukan aliran-aliran ini menunjukkan bahwa mereka lahir dari perdebatan intelektual yang jujur mengenai bimbingan umat. Ini bukti hidupnya pemikiran Islam. [23]

Mari kita masuk ke rincian aliran-aliran tersebut untuk melihat betapa beragamnya "rumah besar" Syiah ini. [24]

1. Zaidiyah (Fivers): Aktivisme Politik

Aliran Zaidiyah muncul sebagai pengikut Zaid bin Ali. Zaid dikenal sebagai tokoh yang mengangkat senjata melawan kezaliman Dinasti Umayyah di Kufah pada tahun 740 M. Bagi Zaidiyah, Imam harus berani memberontak terbuka terhadap penguasa zalim. [25]

Mengapa Zaidiyah disebut paling dekat dengan Sunni? Karena mereka tidak mensyaratkan Ishmah sempurna bagi Imam. Mereka juga menerima kepemimpinan Abu Bakar dan Umar dalam konsep al-Mafdhul. [26]

Logika pemberontakan Zaid bin Ali adalah "Aktivisme Politik". Zaidiyah menolak kepasifan. Hingga kini, penganut Zaidiyah mayoritas berada di Yaman dan secara fikih mirip mazhab Syafii. [27]

2. Ismailiyah (Seveners): Esoterisme dan Kejayaan Fatimiyah

Aliran Ismailiyah pecah ketika terjadi perbedaan suksesi setelah Imam Jafar as-Sadiq. Mereka meyakini Imam ketujuh adalah Ismail bin Jafar. Ismailiyah menekankan aspek Batin dari Al-Qur'an. [28]

Kelompok ini melahirkan Dinasti Fatimiyah di Mesir. Di bawah Fatimiyah, Kairo dibangun dan Universitas Al-Azhar didirikan sebagai pusat keunggulan intelektual Syiah. [29]

Ismailiyah memadukan neoplatonisme dengan teologi Islam. Tokoh-tokoh seperti Ikhwan al-Shafa memberikan kontribusi luar biasa dalam ensiklopedia ilmu pengetahuan dunia. [30] Dalam Ismailiyah, Imam adalah penafsir tunggal kebenaran esoteris. Mereka membagi realitas menjadi Zahir (eksoteris) dan Batin (hakikat). [31]

Meskipun dituduh "kebatinan", Ismailiyah membuktikan diri mampu membangun peradaban toleran dan maju secara sains di masanya. [32] Aliran ini pecah lagi menjadi Nizaris (pengikut Aga Khan) dan Musta'lians. Nizaris dikenal sebagai komunitas Muslim modern yang sangat dermawan internasional. [33]

Kejayaan Fatimiyah menunjukkan Syiah mampu menjadi mazhab penguasa yang membawa kemajuan bagi seluruh rakyat, termasuk non-muslim. [34] Ismailiyah tetap menjadi salah satu aliran dengan kontribusi literatur filosofis terkaya dalam sejarah Islam. [35]

3. Itsna Asyariyah (Twelvers): Mayoritas Syiah Saat Ini

Itsna Asyariyah meyakini urutan 12 Imam, dimulai dari Ali bin Abi Thalib dan berakhir pada Muhammad al-Mahdi. Aliran ini mengkristal setelah periode Ghaibah. [36]

Doktrin 12 Imam bukan sekadar silsilah, tapi pilar teologis. Imam ke-12 diyakini masuk masa keghaiban pada 874 M untuk menghindari kejaran penguasa Abbasiyah. [37] Konsep Ghaibah terbagi dua: Ghaibah Shughra dan Kubra. Selama masa ini, umat dipimpin fukaha berintegritas tinggi (Wilayatul Faqih). [38]

Penantian Imam Mahdi bagi Twelvers adalah penantian aktif. Umat harus mempersiapkan dunia dengan keadilan agar sang Imam pantas untuk kembali muncul. [39]

Itsna Asyariyah memiliki tradisi intelektual kuat dalam Ushul Fiqh. Mereka sangat menekankan peran akal ('Aql) dalam menggali hukum Islam. [40] Pusat studi di Najaf dan Qom hingga kini melahirkan ribuan karya ilmiah lintas disiplin, membuktikan ini adalah mazhab yang berpikir. [41]

Identitas Twelver kental dengan peringatan kesyahidan Imam, yang berfungsi sebagai pengingat perjuangan abadi melawan penindasan.[42] Secara geopolitik, Itsna Asyariyah menjadi kekuatan signifikan, namun secara spiritual tetap fokus pada penyucian jiwa melalui irfan. [43]

Keragaman Zaidiyah, Ismailiyah, dan Twelver bukti Syiah adalah ekosistem pemikiran luas. Barangsiapa menyempitkannya dalam stigma negatif menunjukkan kedangkalan ilmunya. [44]

Bersambung..

Referensi:

  • [1] Momen, Moojan. An Introduction to Shi'i Islam. Yale, 1985, hlm. 61.
  • [2] Kohlberg, Etan. Belief and Law in Imami Shi'ism. Variorum, 1991, hlm. 25.
  • [3] Khamenei, Ali. Fatwa on Sunni Symbols. Tehran, 2010.
  • [4] Al-Khu'i, Abu al-Qasim. Al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an.
  • [5] Enayat, Hamid. Modern Islamic Political Thought. Texas, 1982, hlm. 175.
  • [6] Haeri, Shahla. Law of Desire. Syracuse, 1989.
  • [7] Corbin, Henry. History of Islamic Philosophy, hlm. 35.
  • [8] Daftary, Farhad. The Isma'ilis. Cambridge, 1990, hlm. 1.
  • [9] Halm, Heinz. Shi'ism. Edinburgh, 2004, hlm. 20.
  • [10] Nasr, S.H. Science and Civilization in Islam. Harvard, 1968.
  • [11] Kohlberg, Etan. Op. Cit., hlm. 32.
  • [12] Corbin, Henry. Op. Cit., hlm. 40.
  • [13] Al-Khu'i. Op. Cit. (Membahas sensor riwayat lemah).
  • [14] Enayat, Hamid. Op. Cit., hlm. 178.
  • [15] Momen, Moojan. Op. Cit., hlm. 182.
  • [16] Sachedina, Abdulaziz. Islamic Messianism, hlm. 15.
  • [17] Jafri, S.H.M. The Origins..., hlm. 250.
  • [18] Daftary, F. Op. Cit., hlm. 10.
  • [19] Nasr, S.H. The Heart of Islam, hlm. 165.
  • [20] Halm, Heinz. Op. Cit., hlm. 22.
  • [21] Amman Message Project. ammanmessage.com.
  • [22] Risalah Amman Consensus Report, 2004.
  • [23] Corbin, Henry. En Islam Iranien, Vol 1.
  • [24] Jafri, S.H.M. Op. Cit., hlm. 255.
  • [25] Walker, Paul E. "Zaydiyya" dalam Oxford Encyclopedia.
  • [26] Madelung, Wilferd. Der Imam al-Qasim..., Brill, 1965.
  • [27] Madelung, W. "Zaydiyya" dalam EI2.
  • [28] Daftary, F. A Short History of the Ismailis, hlm. 36.
  • [29] Sanders, Paula. Ritual and Politics in Fatimid Cairo.
  • [30] Daftary, F. Op. Cit., hlm. 45.
  • [31] Ikhwan al-Shafa Encyclopedia Studies.
  • [32] Corbin, H. Op. Cit. (Dimensi Batin Ismailiyah).
  • [33] Lewis, Bernard. The Assassins.
  • [34] Aga Khan Development Network Reports.
  • [35] Fatimid Caliphate Archives.
  • [36] Sachedina, A. Islamic Messianism, hlm. 42.
  • [37] Arjomand, Said Amir. The Shadow of God. Chicago.
  • [38] Momen, Moojan. Op. Cit., hlm. 147.
  • [39] Kohlberg, E. Op. Cit. (Konsep Ghaibah).
  • [40] Modarressi, Hossein. Crisis and Consolidation.
  • [41] Najaf & Qom Seminary Studies.
  • [42] Halm, Heinz. Op. Cit. (Ritual Twelver).
  • [43] Nasr, S.H. Ideals and Realities.
  • [44] Jafri, S.H.M. Op. Cit., hlm. 124.

Subscribe untuk mendapatkan update terbaru dari kami:

0 Response to "Di Balik Label ‘Sesat’: Membaca Ulang Sejarah Mazhab Syiah (Chapter 4)"

Posting Komentar